Banten, Ybia Indonesia - Dari tanah yang sarat sejarah perlawanan, Banten, lahir seorang ulama kharismatik yang menuliskan takdirnya bukan hanya di kitab-kitab keilmuan, tetapi juga di rimba perjuangan bersenjata. Dialah Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) K.H. Syam’un—figur langka yang menyatukan iman, ilmu, dan keberanian revolusioner dalam satu tarikan napas perjuangan bangsa.
K.H. Syam’un bukan sekadar tokoh agama, bukan pula hanya pejabat pemerintahan. Ia adalah representasi ulama pejuang sejati: ketika nasib bangsa dipertaruhkan, mimbar ditinggalkan, jabatan dilepas, dan senjata diangkat demi tegaknya Merah Putih.
MENYALAKAN API KESADARAN BANGSA
Lahir di Kampung Beji, Cilegon, pada 1883 (sebagian sumber menyebut 1894), K.H. Syam’un mewarisi darah perlawanan. Ia adalah cucu K.H. Wasid, tokoh sentral Pemberontakan Petani Banten 1888, sebuah warisan ideologis yang membentuk kesadarannya sejak dini bahwa penjajahan harus dilawan, bukan dinegosiasikan.
Pendidikannya ditempa hingga ke pusat peradaban Islam dunia. Ia menuntut ilmu di Makkah dan kemudian di Universitas Al-Azhar, Kairo (1910–1915). Namun, sepulangnya ke Tanah Air, Syam’un tidak berdiam di menara intelektual. Ia melihat rakyat terbelenggu oleh kebodohan dan kemiskinan, penjajahan dalam rupa yang lebih sunyi namun mematikan.
Pada 1916, ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Khairiyah di Citangkil. Pesantren ini berkembang menjadi institusi pendidikan modern yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum. Lebih dari sekadar pusat pendidikan, Al-Khairiyah menjelma menjadi dapur ideologis perlawanan, tempat nasionalisme dan kesadaran anti-kolonial ditanamkan secara sistematis.
SERAGAM PETA DAN STRATEGI PERLAWANAN
Babak perjuangan K.H. Syam’un memasuki fase krusial pada masa pendudukan Jepang. Pada 1943, ia diangkat sebagai Daidanco (Komandan Batalion) PETA wilayah Cilegon–Serang. Namun, jabatan itu bukan simbol kolaborasi, melainkan alat perjuangan. Di balik seragam militer, Syam’un memanfaatkan posisinya untuk melatih ribuan pemuda Banten dalam disiplin dan taktik perang. Ia menyiapkan mereka bukan untuk membela Jepang, melainkan untuk menghadapi setiap bentuk penjajahan yang menginjak bumi Indonesia.
Kesetiaan pasukan kepadanya bersifat total. Ia bukan sekadar komandan, melainkan guru spiritual. Tercatat dalam sejarah, seorang prajurit menolak perintah opsir Jepang dan hanya bersedia bertindak jika perintah itu datang langsung dari K.H. Syam’un, sebuah bukti betapa kuatnya wibawa moral sang ulama pejuang.
MENINGGALKAN PENDOPO, MEMILIH RIMBA
Pasca-Proklamasi, K.H. Syam’un dipercaya menjadi Bupati Serang ke-13. Namun, ketika Agresi Militer Belanda II meletus pada Desember 1948 dan Serang kembali diduduki, ia membuat keputusan monumental: meninggalkan jabatan sipil tertinggi demi memimpin perlawanan bersenjata. Ia ditunjuk sebagai Panglima Divisi 1000/1, cikal bakal kekuatan yang kemudian terintegrasi dengan Divisi Siliwangi.
Di bawah komandonya, pasukan bergerilya dari Gunung Karang hingga pelosok Anyer, bertahan di tengah hutan, menghadapi kelaparan, penyakit, dan tekanan musuh yang tak berkesudahan. Inilah puncak pengorbanan seorang ulama yang memilih penderitaan di rimba raya daripada kenyamanan kekuasaan. Ia adalah bupati yang menanggalkan pendopo, panglima yang memilih tanah basah dan langit terbuka sebagai medan baktinya.
GUGUR SEBAGAI PEJUANG, ABADI SEBAGAI PAHLAWAN
Pada 2 Maret 1949, di Desa Kamasan, Anyer, K.H. Syam’un menghembuskan napas terakhir setelah sakit selama empat hari. Ia wafat dalam dekapan istri, jauh dari kemewahan yang pernah ia miliki, namun dekat dengan cita-cita kemerdekaan yang ia bela hingga akhir hayat.
Perjalanannya dari ulama, pendidik, Daidanco PETA, bupati, hingga panglima gerilya adalah potret utuh pengabdian tanpa syarat kepada bangsa dan negara. Negara kemudian mengukuhkan jasanya dengan menganugerahkan pangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) dan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.
K.H. Syam’un telah gugur. Namun, semangatnya tetap hidup, menyala di setiap jengkal tanah Banten, dan bergema dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia.

Tidak ada komentar
Posting Komentar