Oleh: Ki alit Pranakarya
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Di dalam tulisan #kaP ini tak perlu membicarakan tentang kekacauan yang ada di sekitar atau mengritisi suatu pihak. Apa yang tertuang dalam tulisan ini semata-mata bertujuan untuk mengingatkan kembali dan memberi tahu kondisi jiwa atau keimanan seseorang serta mengajak untuk saling berintrospeksi.
Ybia Indonesia - Dalam bulan Ramadhan ini cukup dengan mengevaluasi apa yang ada dalam diri pribadi masing-masing mengenai keadaan jiwa/rohani dalam segi kualitas keimanan dan ketakwaan selama ini. Salah satunya dengan memperbaiki kondisi spiritual.
Jika membicarakan tentang spiritual, tak pernah lepas dari beberapa aspek kehidupan baik nyata maupun tak nyata.
Jika ada yang menyatakan bahwa keberadaan makhluk hidup di dunia ini muncul dengan sendirinya kemudian dapat dibalas dengan pertanyaan “Bagaimana bumi dan alam semesta ini lahir? Siapa yang melahirkan? Bukankah sebelum angka 1 diawali dengan angka 0?”.
Segala sesuatu yang eksis atau muncul di dunia ini pasti ada yang memulai dan ada yang memicunya untuk muncul dalam proses/kronologi yang berurutan.
Sebelum menyebut dengan lisan, untuk menjawab pertanyaan di atas idealnya seorang hamba Allah (muslim) perlu mengenal-Nya terlebih dahulu melalui qolbu (hati) atau batin dengan tujuan meyakini/mengimani dan merasakan keberadaan penciptanya.
Setelah merasakan dan meyakini keberadaan-Nya kemudian dapat diteruskan melalui lisan atau ucapan dengan jawaban. Dia adalah Allah S.W.T. Pencipta Alam Semesta dan keberadaan manusia.
Dalam diri manusia pada dasarnya terdiri dari jasmani dan rohani. Allah menciptakan manusia meliputi aspek fisik dan jiwa. Fisik manusia terdiri dari tulang/kerangka, darah, otot, syaraf, dan lain-lain, yang mana merupakan sebagai perwujudan keberadaan jiwa atau pendukung pergerakan jiwa.
Sedangkan hakikat jiwa atau yang biasa disebut dengan Roh Sejati merupakan komponen utama dari tubuh halus atau rohani yang merupakan bagian kecil dari prinsip Allah Yang Maha Agung dengan sifat kebenaran sejati, kesadaran yang sempurna, dan kebahagiaan sejati.
Jiwa merupakan komponen utama dalam mengendalikan segala bentuk perilaku selama hidup di dunia dan fisik adalah bentuk pengekspresiannya. Dalam jiwa manusia terdapat hasrat dalam rangka mewujudkan berbagai bentuk keinginan yang biasa disebut dengan nafsu.
Allah S.W.T. sebagai Sang Pencipta segala eksistensi yang ada di dunia termasuk apa yang ada dalam diri manusia. Manusia memiliki berbagai macam karakter/watak dan sifat. Hal tersebut muncul karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, bisa bersumber dari gen (keturunan) atau bisa dari lingkungan hidupnya.
Ada yang mengatakan bahwa segala tindakan atau bentuk perilaku manusia semata mata karena watak yang tak bisa diubah. Seperti halnya seorang yang berwatak pemarah, agresif, pendiam, pendendam, biasanya banyak yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan pengaruh gen atau bawaan dari sifat orang tuanya (hal ini bisa dipelajari dalam dunia biologi).
Memang benar demikian adanya. Namun tidak semuanya berujung pada dampak yang negatif. Hal ini biasanya dapat memicu sebuah konflik jika masing-masing saling bertentangan dengan wataknya. Semua itu kembali pada pengendalian diri dan kualitas spiritualnya.
Karakter hanyalah sebagai gambaran/ciri khas pribadi seseorang. Namun dalam sisi spiritual tetap sama. Hakikatnya adalah sama sama bertuhan. Semua pasti ingin hidup dengan damai dan tak menginginkan adanya suatu masalah.
Suatu masalah atau kekacauan semata mata karena ulah dari manusia itu sendiri. Orang sakit juga ulah dari manusia itu sendiri. Allah memberi sehat atau sakit artinya Allah telah memberi pilihan, manusia yang memilihnya, bukan Allah kejam memberi sakit.
Tak benar apa yang dikatakan Allah memberi suatu masalah karena Allah benci dengan hamba-Nya yang selalu berbuat maksiat, penuh dengan dosa. Semua yang terjadi pada individu akan selalu terselip hikmah, juga merupakan tanda Allah masih peduli dengan hamba-Nya.
Apa yang dilakukan manusia akan secara otomatis berdampak pada hasil yang telah diperbuat. Entah dalam jangka waktu singkat atau lama.
Allah menata/mengatur segala kehidupan manusia dalam bentuk aturan, larangan, petunjuk, dan inspirasi hidup (biasanya melalui sebuah sejarah) melalui Al-Qur’an dan Hadist. Segala firman-Nya tertera di dalam kitab itu.
Semua diatur sedemikian sempurnanya. Terkadang manusia masih bingung dan salah mengimplementasikannya, debat sana sini, saling menyalahkan, berlomba-lomba membenarkan dirinya hingga lupa bertuhan. Hal ini karena hanya berpedoman pada tulisan/teori-teori belaka tanpa adanya pemahaman. Biasanya sekedar ikut-ikutan dengan tujuan agar sama seperti yang lain atau ingin diakui orang lain. Golongan seperti ini biasanya lebih suka berdebat dari pada bermusyawarah.
Secara tidak sadar justru hal tersebut akan memicu adanya pengakuan untuk menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan menang, mempunyai ilmu yang cukup tinggi atau merasa puas telah mematahkan pendapat lawan.
Maka dari itu menjadi seorang penasihat, Ustadz/Ustadzah, atau seorang Ulama sekalipun sebenarnya berat alias tidak gampang. Biasanya akan terjerumus dalam sebuah pengakuan-pengakuan baik secara sadar maupun tak sadar.
Hal ini justru akan membuat rendah di mata Allah walau secara wujud sempurna di mata orang lain, nilai ibadah menjadi luntur dan biasanya bersifat penuh perhitungan.
Sebaik-baiknya orang berilmu adalah mereka yang mau membagikan ilmunya yang bermanfaat. Sebaik-baiknya orang berilmu adalah mereka yang menyempurnakan keimanannya dan mengaplikasikan segala bentuk ucapannya.
Apa kaitannya dengan puasa? Nah, dalam rangka meningkatkan kualitas spiritual, perlu membendung segala nafsu yang dapat menjadikan batilnya nilai ibadah.
Seperti yang dibicarakan sebelumnya bahwa perlu menghindari adanya pengakuan-pengakuan dengan merasa diri paling benar apalagi dalam membicarakan masalah agama. Hal tersebut dipicu oleh nafsu-nafsu semata. Secara tidak sadar perlahan akan membangkitkan ego dalam diri. Dengan cara membendung nafsu bertujuan untuk benar-benar kembali dan fokus ke jalan Allah.
Salah satu cara pengendalian nafsu adalah dengan berpuasa. Hakikat berpuasa adalah mematikan nafsu-nafsu yang sifatnya merugi dan mengaktifkan nafsu-nafsu positif atau bisa disebut dengan kendali nafsu.
Allah menciptakan waktu yang paling berharga untuk umat Islam, penuh berkah, dan rahmat untuk kembali membersihkan jiwa melalui bulan suci Ramadhan. Pada bulan suci ini ada banyak kesempatan atau celah manusia untuk memperbaiki diri.
Tak hanya sekedar menahan lapar dan haus, perlu kiranya menahan segala bentuk hal yang memicu timbulnya dosa, meningkatkan keimanan dengan memperbanyak rasa perihatin diri, jika dalam bahasa jawa adalah “rumongso”. Mengingat segala keburukan diri yang pernah dilakukan dan perbanyak beristigfar.
Jika sampai hati menangis dan kapok, pertanda istigfar telah sampai. Tak hanya sekedar istigfar secara lisan, namun juga mampu membuktikan perubahan kualitas spiritual, membuktikan segala bentuk perubahan perilaku dalam rangka kembali ke jalan Allah. Jika bisa merasakan kedamaian hati, pertanda ampunan Allah telah datang.
Namun jika masih merasakan gundah, bingung dan susah walau kita sudah istigfar 1000 kali pun, itu bisa jadi yang namanya proses. Jika mampu melalui proses tersebut, akan ada penghargaan tersendiri dari Allah yakni berupa pengampunan bahkan pahala. Itulah bentuk ampunan yang sebenarnya. Tak hanya mengucap melalui lisan namun ada niat dan usaha untuk berubah.
Dalam kesempatan di bulan suci ini ada beberapa cara pembersihan diri, dengan memperbanyak melakukan ibadah Mahdhah, hubungan langsung manusia dengan Allah (habluminallah). Seperti tertib salat 5 waktu, perbanyak dzikir, melaksanakan salat sunnah(tarawih), perbanyak istigfar, membaca dan memahami isi Al-Qur’an, iktikaf, dan kesempatan-kesempatan ibadah lainnya.
Sedangkan juga belajar membiasakan diri melakukan ibadah Ghairu Mahdah, yakni hubungan baik dengan sesama manusia (habluminannas). Seperti saling berjemaah, artinya bersama-sama dan kompak dalam rangka berjalan ke jalan Allah (saling membantu, bukan saling menjatuhkan), perbanyak musyawarah hindari perdebatan, menjalin tali sillaturrahmi atau menjaga hubungan baik antar sesama umat muslim maupun non muslim, menjaga sikap dan lisan baik secara lahir maupun batin, menghindar dari sifat ego, membudayakan tolong menolong tanpa memandang golongan antar manusia, sehatkan pola pikir dengan memelihara pikiran positif dan tidak mengedepankan emosi yang sifatnya merugi.
Itu semua merupakan bagian dari proses pembersihan diri selain menahan lapar dan haus. Karena tujuan utama berpuasa adalah dalam rangka penyucian diri dan mengharap rida Allah.
Alangkah baiknya jika tak hanya dilakukan pada bulan puasa. Karena pembersihan diri semata-mata dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan Allah dan penggalian jati diri kapan pun dan di mana pun. Tak lupa juga dengan menjaga hubungan baik antar sesama. Jika bisa diaplikasikan dengan baik akan berdampak pada kedamaian. Sedangkan kedamaian adalah simbol dari surga.
Makanya mengapa surga hanya diduduki oleh golongan orang-orang yang damai. Bedanya di Bulan Ramadhan adalah Ramadhan merupakan bulan yang penuh kesempatan untuk memperbaiki diri secara aspek spiritual.
Sebenarnya dalam kehidupan diri manusia tak hanya pada aspek spiritual melainkan ada beberapa aspek, yakni intelegensi (kecerdasan), emosional, fisikal (tubuh), dan sosial.
Namun yang paling berperan penting di sini adalah aspek yang berhubungan dengan Ketuhanan, yakni aspek spiritual yang kemudian diseimbangkan dengan aspek-aspek lainnya. Banyak orang berilmu dan pandai bicara namun lupa dengan jati dirinya. Semoga kita bukan merupakan golongan tersebut.
Semoga kita dapat melalui bulan suci yang penuh berkah ini dengan lancar dan memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh keimanan, kekhusyukan, dan keikhlasan. Semoga segala amal ibadah dapat diterima Allah S.W.T. dan membawa kesan yang baik ke depannya dan dapat bertemu bulan Ramadhan tahun depan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan!
Salam Silaturahmi.....
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.
Ki alit Pranakarya
Penggagas / Ketua Foundation Umum FSSN (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Tidak ada komentar
Posting Komentar