Biografi KH. Bahri bin Pandak: Sebuah Perjalanan Spiritual
Ybia Indonesia - Kiai Haji Bahri bin Pandak, seorang ulama ternama di Provinsi Sumatera Selatan, telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah keagamaan Indonesia. Lahir pada tahun 1916 Masehi di desa Tanjung Atap, kecamatan Tanjung Batu, kabupaten Ogan Ilir, provinsi Sumatera Selatan, KH. Bahri bin Pandak merupakan sosok yang patut diapresiasi atas kontribusi besarnya dalam menyebarkan ilmu agama.
Perjalanan Mencari Ilmu
KH. Bahri bin Pandak memulai perjalanan spiritualnya dengan belajar ilmu agama di wilayah Salatiga, Ogan Ilir, kepada beberapa ulama terkemuka. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di Banten, Jambi, dan Mekkah Al Mukarramah, di mana beliau belajar kepada beberapa ulama besar seperti Sayyid Muhsin Al-Musawa dan Syeikh ‘Abdullah Muhammad Niyar.
Dakwah dan Pengajaran
Setelah pulang ke Indonesia, KH. Bahri bin Pandak aktif berdakwah dan mengajar di beberapa daerah di Sumatera Selatan. Beliau mendirikan pesantren Ma’hadul Haramain di desa Tanjung Atap, yang menjadi pusat penyebaran ilmu agama di wilayah tersebut.
Karya dan Warisan
KH. Bahri bin Pandak meninggalkan karya monumental berupa Kitab Auradul Hakim, yang ditulis pada tahun 1969 M. Beliau wafat pada tahun 1998 M, namun warisannya terus hidup dalam masyarakat Sumatera Selatan.
Peringatan Haul
Setiap tahun, masyarakat Sumatera Selatan memperingati haul KH. Bahri bin Pandak sebagai tanda penghormatan atas kontribusi besarnya dalam menyebarkan ilmu agama. Beliau merupakan contoh ulama yang patut ditiru, dan semoga kita dapat mengambil inspirasi dari perjalanan spiritualnya.
Wallahu A’lam
Sumber: Jurnalistik.tsirwah
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar