Usman Debot: Jawara Cibinong yang Menggetarkan Tanah Jawa

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Di tengah kobaran revolusi, lahirlah nama yang tak bisa dipandang sebelah mata: Usman Debot. Bukan sekadar jawara kampung, bukan sekadar pemimpin laskar, ia adalah simbol perlawanan dari pinggiran, dari bukit kapur Cibinong hingga hutan-hutan Jonggol.


Laskar Bambu Runcing, Api Perlawanan 100%

- Usman Debot memimpin pasukan Bambu Runcing, menuntut kemerdekaan 100% tanpa kompromi.

- Wilayah gerilya Debot membentang dari Citeureup, Cibinong, Cileungsi, Kampung Daiyeh, Jonggol hingga ke selatan.

- Basisnya berada di bukit-bukit kapur, gua-gua alami yang menjadi benteng sekaligus sumber logistik.


Tak Mempan Peluru?

- Di mata rakyat, Usman Debot bukan hanya pemimpin, ia legenda hidup.

- Banyak yang bersaksi peluru tak mampu menembus tubuhnya, namun sebenarnya karena taktik dan keberanian.


Benturan dengan Republik

- Usman Debot menolak kebijakan Restrukturisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) tentara, memandang perundingan sebagai jalan yang terlalu lunak terhadap Belanda.

- Benturan pun tak terelakkan, namun akhirnya Usman Debot memilih jalan damai dan menyerahkan diri kepada Batalion 313 Divisi Siliwangi.


Warisan

- Usman Debot wafat pada 1990, namun namanya tetap hidup di ingatan warga Cibinong dan sekitarnya sebagai jawara, sebagai pemberontak, sebagai bagian dari mozaik rumit revolusi Indonesia.

- Ia adalah potret zaman ketika keberanian, idealisme, dan konflik bersatu dalam satu nama demi sebuah kata yang tak pernah bisa ditawar "MERDEKA". 

Tidak ada komentar

Posting Komentar