Ybia Indonesia - Nama K.H. Zainuddin Hamidi, atau yang lebih akrab di telinga kita sebagai Zainuddin MZ, bukan sekadar nama besar di panggung dakwah. Ia adalah fenomena. Julukannya sebagai "Dai Sejuta Umat" bukan sekadar hiasan, melainkan cerminan betapa ceramahnya mampu merengkuh hati dari rakyat jelata hingga pejabat negara. Meski telah berpulang pada 5 Juli 2011, suara serak-serak basahnya yang khas dan humornya yang segar masih terngiang, menjadi warisan abadi bagi sejarah syiar Islam di tanah air.
Masa Kecil: Dari Penjual Nasi Uduk ke Podium Dakwah
Lahir di Jakarta pada 2 Maret 1952, Zainuddin adalah putra tunggal dari pasangan Betawi asli, Turmudzi dan Zainabun. Tak banyak yang tahu bahwa masa kecil sang kiai penuh perjuangan. Sejak usia dua tahun, ia telah kehilangan figur ayah. Untuk membantu menyambung hidup, "Udin kecil" tak segan membantu ibunya berjualan nasi uduk. Bakat pidatonya sudah terlihat sejak belia. Udin kecil seringkali naik ke atas meja hanya untuk berpidato di depan tamu kakeknya. Bakat alami ini kemudian diasah secara formal di Madrasah Darul Ma’arif, Cipete, di bawah asuhan langsung ulama kharismatik sekaligus politikus ulung, K.H. Idham Chalid.
Revolusi Dakwah Melalui Kaset dan Layar Kaca
Zainuddin MZ adalah pelopor dakwah modern di Indonesia. Ketika dakwah saat itu masih terbatas di masjid-masjid, ia membawa ajaran Islam masuk ke ruang tamu rumah melalui rekaman kaset dan televisi. Hobi mendengarkan dangdut membuatnya memiliki selera humor yang merakyat. Kolaborasinya dalam program "Nada dan Dakwah" bersama para artis nasional menjadi jembatan efektif bagi masyarakat yang haus akan siraman rohani namun tetap menghibur. Gaya tuturnya yang luwes dan sederhana membuat ajaran agama yang berat menjadi mudah dicerna.
Sang Magnet Suara di Panggung Politik
Kepiawaiannya mengolah kata tak pelak menarik perhatian dunia politik. Di bawah bimbingan gurunya, KH Idham Chalid, Zainuddin terjun ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Bersama sang Raja Dangdut Rhoma Irama, ia menjadi vote-getter utama yang sempat membuat penguasa Orde Baru waswas karena mampu memobilisasi massa dalam jumlah raksasa. Karier politiknya memuncak saat ia mendirikan Partai Bintang Reformasi (PBR) pada tahun 2002 dan sempat dideklarasikan sebagai calon presiden. Namun, politik tak pernah benar-benar menjauhkannya dari jati diri utamanya sebagai pendakwah. Di akhir hayatnya, ia kembali ke pelukan umat, fokus menebarkan ilmu tanpa embel-embel jabatan.
Akhir Perjalanan Seorang Guru
Dunia berduka ketika pada pagi hari 5 Juli 2011, sang kiai mengembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan menuju RS Pusat Pertamina akibat serangan jantung. Ia pergi meninggalkan jutaan umat yang merasa kehilangan sosok "ayah" spiritual.
K.H. Zainuddin MZ telah tiada, namun ia mewariskan sebuah standar baru dalam berdakwah: bahwa agama tidak harus disampaikan dengan wajah garang, melainkan dengan senyum, canda, dan kedekatan yang tulus kepada umat.
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar