Kisah Tangisan Bayi yang Membuat Rasulullah ﷺ Mempercepat Shalatnya

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ berdiri sebagai imam, memimpin para sahabat melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Seperti biasa, shalat beliau khusyuk, tertib, dan penuh ketenangan. Para sahabat mengetahui, jika Rasulullah ﷺ menjadi imam, beliau sering membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan bacaan yang indah dan cukup panjang.

Namun hari itu, ada sesuatu yang berbeda. Di tengah shalat, terdengar suara tangisan seorang bayi. Tangisan itu lirih namun terus berulang, menembus keheningan masjid. Bayi itu menangis bukan karena lapar semata, tetapi karena mencari dekapan ibunya. Ibunya ada di dalam shalat berjamaah.

Rasulullah ﷺ mendengar tangisan itu. Dan di saat itulah, hati seorang nabi sekaligus seorang manusia penuh kasih bergerak. Beliau tahu, setiap isak bayi adalah getaran di hati seorang ibu. Ia tahu, semakin lama shalat berlangsung, semakin gelisah pula hati sang ibu—antara ingin khusyuk kepada Allah dan ingin menenangkan buah hatinya.

Maka Rasulullah ﷺ mempercepat shalatnya. Beliau tidak memanjangkan bacaan, tidak menambah rakaat, dan tidak memberatkan makmum. Shalat tetap sah, tetap sempurna, tetapi dipersingkat dengan penuh hikmah dan kasih sayang.


Pelajaran Besar dari Tangisan Kecil


Dari tangisan bayi itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan banyak hal:

1. Allah mencintai ibadah yang tidak memberatkan

2. Perasaan seorang ibu diperhatikan dalam syariat

3. Imam harus peka terhadap kondisi makmum

4. Kasih sayang adalah inti dari agama

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang taat sekaligus penuh kasih, meneladani Rasulullah ﷺ dalam ibadah dan akhlak. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Wallahu a‘lam bish-shawab. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar