Ybia Indonesia - Di tanah Garut yang sejuk, pernah lahir seorang ulama yang bukan hanya ahli ilmu, tetapi juga ahli keberanian. Namanya: KH Syaikhuna Badruzzaman.. Seorang kiai, pejuang, pemimpin tarekat, dan penjaga akidah umat. Beliau lahir tahun 1900 dari keluarga ulama terhormat: Putra dari Raden KH Asnawi Muhammad Faqih dan Hj. Kulsum. Nasabnya bersambung hingga Sunan Gunung Djati — darah ulama sekaligus pewaris perjuangan dakwah di tanah Sunda. Namun kemuliaan beliau bukan sekadar karena nasab. Kemuliaannya lahir dari ilmu, ketegasan, dan keberanian.
Pendidikan & Keilmuan
Sejak kecil beliau dididik langsung oleh ayahnya dan pamannya, KH Qurtubi, sebelum melanjutkan ke pesantren kakaknya, KH Bunyamin di Ciparay, Bandung. Ilmu yang beliau pelajari bukan sekadar untuk diri sendiri. Ilmu itu menjadi bekal untuk membela umat dan bangsa. Kelak beliau memimpin Pesantren Al-Falah Biru Garut, menjadikannya pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak tokoh.
Ulama yang Tidak Tunduk pada Penjajah
Saat Belanda berkuasa, beliau menentang kebijakan yang bertentangan dengan syariat, termasuk praktik penyuntikan mayat. Saat Jepang datang, beliau dengan tegas menolak seikerei (membungkuk ke arah matahari terbit). Bagi beliau, sujud hanya kepada Allah. Tidak kepada matahari. Tidak kepada kekuasaan. Tidak kepada penjajah. Inilah tauhid yang hidup.Bukan teori. Tapi sikap.
Pejuang di Medan Perang
KH Badruzzaman memimpin Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Beliau ikut berperan dalam perjuangan fisik, termasuk dalam pertempuran Surabaya. Menurut riwayat lisan, beliau dikenal memiliki karomah dalam perjuangan. Namun yang lebih penting dari karomah adalah keberanian dan keteguhan iman yang nyata di medan tempur.
Muqaddam Tarekat Tijaniyyah
Beliau juga dikenal sebagai salah satu Muqaddam Tarekat Tijaniyyah terkemuka di Jawa Barat. Pengikutnya mencapai puluhan ribu. Beliau membuktikan bahwa tarekat sejati bukan pelarian dari dunia, tetapi kekuatan spiritual untuk memperbaiki dunia. Tasawuf tidak melemahkan. Tasawuf justru menguatkan.
Relasi Nasional
KH Syaikhuna Badruzzaman memiliki hubungan baik dengan tokoh nasional. Beliau dipercaya melantik Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pada tahun 1950. Ini menunjukkan bahwa ulama bukan hanya penjaga mimbar, tetapi juga penjaga arah bangsa.
Warisan Abadi
Beliau wafat meninggalkan: • Pesantren yang terus hidup • Jaringan tarekat yang luas • Santri yang meneruskan perjuangan • Jejak tauhid yang tak tergoyahkan Garut boleh sunyi, tapi sejarahnya tidak pernah kosong dari ulama besar. KH Syaikhuna Badruzzaman adalah bukti bahwa ulama sejati bukan hanya ahli kitab, tetapi juga ahli sikap. Dan hari ini, kita butuh lebih banyak ulama seperti beliau.
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar