Air Mata Umar di Tengah Malam: Kisah Taubat dan Tangisan Umar bin Khattab r.a.

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Malam di Madinah begitu sunyi. Angin gurun berhembus lembut, membawa dingin yang menusuk tulang. Di sebuah rumah sederhana, seorang lelaki tinggi besar duduk sendirian. Wajahnya tegas. Tubuhnya kuat. Namanya membuat musuh gemetar. Dialah Umar bin Khattab.

Orang-orang mengenalnya sebagai pemimpin yang adil. Amirul Mukminin. Sosok yang ditakuti setan, kata Rasulullah ﷺ. Namun malam itu, Umar menangis. Bukan tangisan kecil. Tapi tangisan yang tertahan lama… lalu pecah.


Kenangan Masa Lalu yang Menghantui

Umar teringat tradisi kejam bangsa Arab dahulu—mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Umar pernah menangis saat menceritakan bagaimana di masa jahiliyah, ia pernah menggali tanah dengan tangannya sendiri.


Tangisan yang Membawa Kesadaran

Umar bukan menangis karena putus asa. Ia menangis karena sadar. Sadar bahwa kekuasaan tak berarti apa-apa di hadapan Allah. Sadar bahwa masa lalu tak akan pernah hilang kecuali dengan taubat yang terus diperbarui.


Pelajaran dari Kisah Umar

Kisah Umar adalah cermin. Ia bukan malaikat. Ia pernah berada di titik gelap. Ia pernah keras, bahkan kasar. Tapi ketika hidayah menyentuh hatinya, ia tak setengah-setengah. Taubatnya bukan sekadar ucapan. Ia ubah hidupnya.

Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk selalu kembali kepada Allah dan memperbaiki diri. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar