Ybia Indonesia - Membaca pikiran Soekarno muda sama artinya dengan menyelami fase paling jujur dari seorang pendiri bangsa. Ini adalah masa ketika gagasan belum dipagari kekuasaan, belum dinegosiasikan oleh kepentingan, dan belum ditundukkan oleh kompromi politik. Pikiran-pikiran itu liar, berani, dan dalam banyak hal.
Untuk memudahkan pembacaan, pemikiran Soekarno dapat dibagi ke dalam dua babak besar, yaitu Soekarno muda dan Soekarno tua. Yang pertama adalah fase pencarian, pergulatan, dan eksperimentasi ideologis. Yang kedua adalah fase ketika ideologi harus berdamai dengan realitas kekuasaan.
Tulisan ini secara sadar memilih menoleh ke belakang, ke masa ketika pikiran Bung Karno masih “perawan”. Tiga Ruang Pembentuk Pikiran Soekarno muda ditempa oleh tiga ruang yang menentukan arah ideologinya.
Pertama, rumah kos H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya, sebuah “laboratorium politik” tempat berbagai ide besar saling bertabrakan. Kedua, penjara Sukamiskin, ruang sunyi yang justru mempertajam refleksi. Ketiga, pembuangan di Ende dan Bengkulu, yaitu tempat kontemplasi ideologis bertemu penderitaan konkret rakyat.
Dari fase inilah lahir tiga teks kunci yang bisa dibaca sebagai fondasi ideologi Soekarno muda: Nasionalisme, Marxisme, dan Islamisme (1926), pledoi Indonesia Menggugat (1930), dan esai kontroversial Islam Sontoloyo. Ketiganya cukup untuk memotret bangunan ideologi Bung Karno sebelum kekuasaan ikut campur.
Nasionalisme sebagai Ruang Temu Soekarno tidak memulai perjuangannya dari satu “isme” tunggal. Ia justru percaya pada pertemuan tiga kekuatan ideologis: nasionalisme, sosialisme (Marxisme), dan Islam. Ini bukan sinkretisme dangkal, melainkan keyakinan bahwa pembebasan Indonesia hanya mungkin terjadi jika ketiganya bekerja bersama.
Nasionalisme baginya bukan sekadar cinta tanah air, apalagi chauvinisme. Nasionalisme adalah alat perjuangan, perekat bagi kekuatan-kekuatan yang berbeda arah, tetapi memiliki musuh yang sama, yaitu imperialisme.
Dalam praktiknya, nasionalisme Soekarno sering kali lentur, bahkan ambigu. Ia bisa berbicara tentang bangsa sebagai kesamaan sejarah dan cita-cita, namun di saat lain memaknainya sebagai perlawanan “kulit cokelat” terhadap dominasi “kulit putih”. Meski demikian, ia secara tegas menolak nasionalisme sempit ala fasisme. Nasionalisme baginya harus membebaskan, bukan menindas.
Marhaenisme: Nasionalisme yang Membumi Dari nasionalisme itulah lahir Marhaenisme, yaitu konsep khas Soekarno yang menjadikan rakyat kecil sebagai subjek sejarah. Marhaen bukan sekadar simbol petani kecil, tetapi representasi rakyat yang hidup dari kerja sendiri, namun tertindas oleh struktur kolonial.
Marhaenisme tidak sepenuhnya sejalan dengan Marxisme klasik Eropa. Soekarno memaksakan adaptasi kadang terlalu optimistis agar teori perjuangan kelas bisa diterapkan di masyarakat agraris.
Dalam Indonesia Menggugat, analisis yang ia gunakan sebenarnya sangat Marxis: imperialisme, kapitalisme, surplus nilai, dan eksploitasi. Marhaenisme lebih sering hadir sebagai bahasa politik pemersatu, bukan pisau analisis utama. Dengan kata lain, sosialisme menjadi alat baca, Marhaenisme menjadi alat mobilisasi.
Kapitalisme, Imperialisme, dan Oligarki Bagi Soekarno muda, imperialisme bukan sekadar penjajahan teritorial, melainkan sistem ekonomi-politik yang menghancurkan seluruh sendi kehidupan bangsa. Kapitalisme modern dengan investasi, liberalisasi modal, dan dominasi pemilik modal adalah bentuk imperialisme paling kejam.
Ia melihat bagaimana hukum dan negara kolonial bekerja bukan untuk rakyat, tetapi untuk melayani kepentingan modal. Negara menjadi alat oligarki. Rakyat hanya tersisa sebagai buruh murah dan pasar paksa.
Soekarno menolak mentah-mentah anggapan bahwa penjajahan adalah “misi peradaban”. Ia membongkar bagaimana stigma bangsa inferior sengaja diciptakan agar penjajahan tampak sah. Bagi Soekarno, menghancurkan imperialisme berarti juga memulihkan harga diri bangsa.
Islamisme: Antara Harapan dan Kritik Soekarno muda tidak pernah memusuhi Islam sebagai ideologi pembebasan. Justru sebaliknya, ia percaya Islam memiliki energi revolusioner. Namun, ia juga tajam mengkritik praktik keberagamaan yang terjebak dalam ritualisme dan menjauh dari realitas ketertindasan.
Baginya, Islam yang kehilangan keberpihakan pada kaum tertindas adalah Islam yang kehilangan ruh. Kritik-kritik kerasnya bukan ditujukan pada iman, melainkan pada kemalasan berpikir dan ketakutan untuk melawan ketidakadilan.
Persatuan yang Bersifat Sementara Soekarno sadar betul bahwa persatuan ideologis tidak mungkin abadi. Maka ia merancang strategi dua tahap: pertama, bersatu untuk merebut kemerdekaan; kedua, berkompetisi menentukan arah bangsa setelah merdeka.
Dalam fase pertama, semua kekuatan radikal dan revolusioner harus menahan ego ideologis. Konflik internal hanya akan menguntungkan penjajah. Persatuan bukan tujuan akhir, melainkan alat perjuangan.
Relevansi yang Tak Pernah Usai Dari Soekarno muda, kita belajar keberanian berpikir dan keberpihakan yang jelas. Kita belajar bahwa ideologi bukan dogma mati, melainkan alat membaca realitas dan mengubahnya. Kita juga diingatkan bahwa menyatukan kepentingan ideologis yang berseberangan selalu membawa risiko historis yang besar.
Pertanyaannya kini: di tengah kapitalisme global, oligarki modern, dan rakyat kecil yang tetap terpinggirkan, masihkah Marhaenisme menemukan rumahnya? Ataukah ia tinggal sebagai jargon, tanpa lagi ruh perlawanan? Jawaban itu bukan milik sejarah, melainkan milik kita hari ini.

Tidak ada komentar
Posting Komentar