Ybia Indonesia - Kisah ini diceritakan oleh Abuya Uci Turtusi, kisah fenomenal tentang karomah Aang Nuh Gentur (KH. Abdul Haq Nuh) asal Cianjur. Salah satu yang paling terkenal adalah peristiwa mobil berjalan di atas air atau melintasi sungai yang jembatannya terputus. Berikut dari kisah tersebut:
Jembatan Putus: Saat dalam perjalanan, mobil yang ditumpangi Aang Nuh Gentur dan supirnya terhenti karena jembatan di depan mereka terputus total.
Perintah Terjang: Sang supir sempat panik dan merasa ajal sudah dekat, namun Aang Nuh dengan tenang memerintahkan supirnya untuk terus menjalankan mobil dan jangan menoleh ke belakang.
Melintasi Sungai: Dengan izin الله, mobil tersebut tidak jatuh ke sungai, melainkan meluncur lancar di atas permukaan air seolah-olah ada jalan yang kokoh, hingga sampai ke seberang. ماشاء الله تبارك لله
Lalu siapa beliau..? Berikut biografi singkat tentang KH. Abdul Haq Nuh.
KH. AANG NUH GENTUR
Ulama Penjaga Tauhid dari Tanah Pasundan
Di antara ulama besar yang harum namanya hingga ke seluruh Nusantara, terdapat sosok yang disegani karena kedalaman ilmu, keteguhan ibadah, dan kejernihan batin: KH. Aang Nuh Gentur, bernama asli KH. Abdul Haq Nuh. Beliau berasal dari Pondok Pesantren Gentur, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di tanah itulah Allah menumbuhkan seorang hamba yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk ilmu dan umat.
Orang-orang mengenal beliau bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena karomah-karomah yang Allah tampakkan melalui dirinya. Di antaranya kisah tentang pedagang yang berubah nasibnya setelah didoakan, serta kemampuan beliau berjalan di atas air. Namun para muridnya selalu mengingat pesan beliau: “Karomah itu bukan tujuan. Ia hanya ujian. Tujuan sejati seorang hamba adalah ridha Allah.”
Nasab Ulama dan Warisan Ruhani
Beliau merupakan putra dari: Mama Ahmad Syathibi bin Mama Haji Muhammad Sa'id bin Mama Haji Abdul Qodir bin Syekh Nur Hajid bin Syekh Nur Katim bin Syekh Dalem Bojong bin Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, wali besar Tanah Sunda. Nasab ini bukan sekadar silsilah darah, tetapi silsilah ilmu, adab, dan tauhid ماشاء الله
Masa Berguru: Menyulam Ilmu dengan Adab
Sejak muda, KH. Aang Nuh Gentur menempuh jalan para salik. Beliau berkelana dari pesantren ke pesantren di tanah Sunda, mendatangi para ulama besar untuk menimba:
-ilmu syariat,
-ilmu tasawuf,
-dan ilmu akhlak.
Beliau dikenal sebagai santri yang sangat menjaga adab. Tidak banyak bicara, tidak menonjolkan diri, lebih sering menyapu pesantren, melayani guru, dan menghidupkan malam dengan tahajud. ماشاء الله تبارك الله
Beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Ilmu tidak masuk ke hati yang penuh merasa diri mulia.” Sejalan dengan ucapan Imam Malik رحمه الله: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Dalam khalwat dan riyadhah yang panjang, beliau mendidik jiwanya agar tunduk sepenuhnya kepada Allah. Maka ketika Allah mengangkat derajatnya, itu bukan karena ia mencari, tetapi karena Allah berkehendak.
Hikmah Hidup yang Menggetarkan
Kalam hikmah beliau yang sangat terkenal hingga hari ini: “Tong hariwang maneh bisa tenang naek kapal padahal teu apal saha pilotna. Tapi kunaon maneh masih keneh hariwang ngajalanan hirup, padahal Alloh geus ngatur kana sagalana.” (Tidak takut naik kapal meski tidak tahu siapa pilotnya. Tapi mengapa engkau masih takut menjalani hidup, padahal Allah yang mengatur segalanya?)
Hikmah ini sejalan dengan perkataan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: “Jika engkau mengenal Allah, maka lenyap lah ketakutanmu terhadap selain-Nya.”
Wafat, Ziarah, dan Kemuliaan Ulama
Hingga hari ini, makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah. Orang-orang datang bukan untuk menyembah, tetapi untuk: mengingat kematian, mengambil berkah doa orang saleh,
Sungguh sangat beruntung para murid murid beliau dulu bisa sambung sanad ke ilmuan. dan menumbuhkan cinta kepada ulama.
Semoga kita bisa berkumpul dengan para alim ulama yang sholeh nanti di akhirat amiiin.

Tidak ada komentar
Posting Komentar