Mayor Oking: Sang Singa Siliwangi yang Mengamputasi Lengannya Tanpa Bius – Pertempuran Cigalontang 1948

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Di balik megahnya perjalanan kemerdekaan Indonesia, terselip kisah yang tidak hanya mengguncang jiwa, tetapi membuat kita sadar betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan. Salah satu kisah paling heroik itu terjadi di lereng Gunung Cigalontang, Tasikmalaya, pada tahun 1948 ketika seorang perwira muda, Mayor Oking Djayaatmadja, menolak tunduk pada maut, meski tubuhnya nyaris hancur diterjang peluru.


Fajar Berdarah di Cigalontang

Tahun 1948 menjadi masa paling genting bagi Republik. Mayor Oking, komandan Batalyon 1/Tarumanegara, memimpin long march kembali ke Jawa Barat setelah berbagai tekanan militer dan politik. Namun perjalanan itu berubah menjadi neraka ketika pasukan Belanda menyergap mereka di kawasan Cigalontang yang berkabut. Letusan senapan mesin, bayonet yang saling bersinggungan, dan pertempuran jarak dekat menciptakan suasana mencekam. Tidak ada ruang mundur. Tidak ada ruang takut.


Lengan Terkoyak, Tapi Semangat Tak Tersentuh

Mayor Oking berdiri di garis paling depan. Ketika peluru musuh menghantam lengan kanannya hingga hancur, darah membanjiri seragamnya. Prajuritnya panik, namun Oking tidak. Dengan wajah pucat dan tubuh bergetar, ia tetap memegang senjata dengan tangan kirinya. Suaranya menggema di lembah Cigalontang: “Terus serang! Jangan pikirkan saya!” Kalimat itu menjadi bara yang membakar kembali nyali pasukannya. Mereka menembus kepungan Belanda, dipimpin oleh komandan yang bahkan terluka pun menolak jatuh.


Operasi Tanpa Bius – Keberanian yang Tak Tertandingi

Setelah pertempuran mereda, kondisi Oking memburuk. Gangren mulai menjalar. Tidak ada rumah sakit, tidak ada peralatan medis memadai, dan obat bius hampir tidak tersedia. Namun demi menyelamatkan nyawanya, satu keputusan diambil: lengannya harus diamputasi. Dalam kondisi darurat, dengan peralatan seadanya, operasi dilakukan hampir tanpa bius. Bayangkan rasa sakit itu daging digores, tulang dipotong, semua dalam keadaan sadar. Tapi Mayor Oking tidak menjerit. Tidak mengeluh. Ia hanya menggertakkan giginya, menahan rasa sakit yang mustahil dibayangkan manusia biasa. Itulah titik ketika seorang manusia berubah menjadi legenda.


Tetap Mengabdi Meski Dengan Satu Lengan

Meski kehilangan lengan kanan, Mayor Oking tidak pernah berhenti berjuang. Ia tetap aktif dalam dinas militer, tetap memimpin, tetap menjadi simbol keteguhan hati bagi rakyat Jawa Barat. Kini, namanya abadi sebagai nama jalan protokol di Bogor dan Bekasi sebuah penghormatan bagi seorang pejuang yang membuktikan bahwa: Tubuh bisa roboh. Tetapi jiwa seorang patriot tidak pernah bisa dipatahkan.


Tidak ada komentar

Posting Komentar