Kisah Wahsyi Bin Harb

Tidak ada komentar

 


Ybia Indonesia - Pada saat peristiwa terjadi perang badar, Hamzah (paman Nabi) berhasil membunuh Tha’imah bin Adiy, pamannya Jubair bin Muth’im. Salah seorang budak Jubair bernama Wahsyi. Wahsyi adalah seorang pemuda berkulit hitam, Jubair berkata kepada Wahsyi. Jika kamu dapat membunuh Hamzah, aku akan membebaskanmu.

Wahsyi tertarik dengan tawaran itu, kaum Quraisy ingin menuntut balas atas kekalahan mereka di Perang badar hingga terjadilah Perang Uhud. Kaum Quraisy dipimpin oleh Khalid bin Wahid, yang saat itu belum  beriman.

Pada perang itu Wahsyi ikut berperang bersama kaum Quraisy. Peperengan di mulai dengan pertarungan satu lawan satu, pihak kaum Quraisy diwakili oleh siba, sedangkan  dari pihak kaum muslimin diwakili oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasululllah saw, maka terjadilah pertarungan yang seru, sehingga Hamzah berhasil mangalahkan Siba. Di tengah berkecamuknya peperangan itu, diam-diam Wahsyi mengintai Hamzah. Ketika Hamzah dalam jarak yang cukup dekat, Wahsyi melemparkan tombaknya hingga terkena  pada tubuh Hamzah pada bagian bawah. Hamzah pun mati syahid.

Gugurnya Hamzah membuat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam sangat bersedih, sehingga kaum Quraisy  berhasil mengalahkan kaum muslim dalam perang Uhud. Mereka kembali ke Mekkah dengan bangga dan senang. Wahsyi tetap tinggal di Mekkah dalam keadaan kafir. Ketika terjadi pembebasan kota Mekkah, banyak  kaum Quraisy yang memeluk agama Islam, begitu pula Wahsyi, beberapa lama kemudian Wahsyi keluar dari kota Mekkah menuju ke Thaif.

Suatu ketika orang-orang Thaif mengirim utusan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasalam, Wahsyi ikut dalam rombongan utusan itu. Pada saat Rasulullah Shallallahu 'alaihu wasalam melihat Wahsyi, beliau bertanya, ”Apakah engkau yang bernama Wahsyi.?"

Wahsyi menjawab “Benar, ya Rasulullah” 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam bertanya  lagi “benarkah kamu yang telah membunuh Hamzah?"

 Wahsyi menjawab, ”benar, telah  terjadi seperti yang engkau dengar?" 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam berkata,”Bisakah kamu tidak menampakkan  wajahmu dihadapanku?" 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam ternyata tidak mau  melihat wajah Wahsyi karena beliau merasa sangat bersedih  atas kematian pamannya. Wahsyi merasa sangat bersalah atas tindakannya.

 Pada saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam wafat muncul Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi. Wahsyi berkata Aku akan keluar menghadapi  Musailamah, semoga aku dapat membunuhnya. Aku akan menebus dosaku karena telah membunuh Hamzah paman dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam. Wahsyi pun ikut dalam pasukan berperang bersama para sahabat lainnya untuk membunuh Musailamah. Pada saat berkecamuknya perang itu, Wahsyi melihat  seseorang yang berdiri diantara celah-celah batu  seperti seekor unta yang kepalanya beruban, maka ternyata dialah Musailamah Al-Kadzdzab.

Wahsyi mengendap endap  mendekatinya, hingga jaraknya cukup dekat, lalu ia melemparkan tombaknya ke arah dada Musailamah Al Kadzdzab. Tombak itu tembus ke dalam dada hingga keluar dari punggungnya. Secara tiba-tiba, seorang sahabat  Anshar melompat ke arah Musailamah dan menebas  kepala  Nabi palsu itu dengan pedang hingga tersungkur di tanah.

Wahsyi berhasil menebus  dosanya, sehingga dia merasa tenang. Dia pun kembali ke kota Madinah bersama para sahabat dengan membawa kemenangan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar