Ybia Indonesia - K.H. Abdul Manan atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Jadug lahir pada tahun 1870, di Desa Grampang, Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra kedua dari KH. Moh Ilyas yang berasal dari Banten dengan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri).
Saat berusia 1 tahun, Kiai Jadug dibawa KH. Moh Ilyas pindah dari Grempol ke Desa Ngadirejo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Setelah pindah, ayahnya kemudian membuka pondok pesantren.
WAFAT
KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H atau bertepatan pada tahun 1979 M di usia 109 tahun. Jenazah beliau di makamkan masih di sekitar Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi Jawa Timur.
KELUARGA
KH. Abdul Manan melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH. Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia cerai dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo, Kandangan (Kediri).
Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH. Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH. Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.
Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar, beliau dikaruniai duabelas putra yakni : 1.Nyai Siti Robi’ah Askandar, 2. Tabsyrul Anam, 3.Ma’ariful Waro, 4. Rofiqotuddarri, 5.Nuryatun,Ma’rifatun, 6. Khosyi’atun, 7. Kamaludin, 8. Abdul Malik Luqoni, 9. Mutamimmah, 10.Munawarroh dan 11. Zubaidah.
Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya, beliau dikaruniai 9 putra-putri yakni : 12. Ny Asliyatun, 13.Moh Soleh, 14. KH Fahruddin, 15. Moh Dalhar, 16.Ny St Aisyah, 17. Dewi, 18. Dafi’ul Bala’, 19. Ny Mariyati dan 20. KH Toha Muntaha.
PENDIDIKAN
Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH. Moh Ilyas, Abdul Manan kecil melanjutkan pendidikannya dengan belajar ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun beliau masuk Pondok Pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH. Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, beliau mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat beliau menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai Nawawi, namun ia sudah mengeyamnya sejak pertama kali masuk pesantren.
Lepas dari Pondok Pesantren Ringin Agung, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Gerompol yang tidak lain adalah pondok pesantren neneknya sendiri. Di Pondok Gerompol, ia banyak menimba ilmu hikmah dan ia dikenal sebagai jago gelut alias ahli jadug karena sering melawan kalangan berandalan dan perampok yang sering merajalela di daerah tersebut. Bahkan ia pernah berhadapan dengan lima puluh berandalan sekaligus dan ia melawan mereka dengan sendirian dan dari sekian banyak berandalan itu dapat dibrantasnya dengan mudah karena ia memang memeiliki jurus-jurus silat yang pernah ia pelajari di Pondok Pesantren Grompol.
Setelah selesai mempelajari ilmu hikmah dan silat di Pondok Gerompol, ia kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar keberbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Dikalangan santri biasa disebut sebagai santri kalong karena mondoknya hanya sebentar saja.
Beberapa pondok pesantren yang pernah dirambah oleh KH. Abdul Manan diantaranya adalah Pondok Pesantren KH. Abas di daerah Wlingi (Blitar), Pondok Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pondok Pesantren Gayam (Jombang), Pondok Pensatren Tegalsari (Ponorogo) dan terakhir ia mondok dengan KH. Kholil Bangkalan atau yang biasa disapa dengan pangilan Mbah Kholil Bangkalan.
Lepas mendapat didikan dari Mbah Kholil ia kemudian melanjutkan belajar ke Mekkah dan belajar dengan ulama-ulama Indonesia yang ada di Mekah dan juga beberapa rubath yang ada di sana selama 9 tahun.
Sepulangnya dari tanah suci, KH. Abdul Manan kembali ke daerah asalnya yakni desa Jatirejo, Kandangan, Kab Kediri untuk membantu orang tuanya menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya kepada santri-santri KH. Moh Ilyas.
MENDIRIKAN PESANTREN
Sebelum memilih daerah Berasan, ia sebelumnya berkeliling mulai dari Kalibaru, Silir, Pesanggrahan, Tamansari dan Berasan. Ternyata dari sekian tempat yang dijelajahi akhirnya terpilih daerah Berasan. Itu pun atas isyaroh dari KH. Cholil Canggan Genteng, Banyuwangi agar memilih daerah Berasan menjadi sentral peantren yang akan ia rintis.
Awalnya, ia berangkat ke Berasan dengan tujuh teman santri dari Jalen dan bertemu dengan warga desa Badegan, Rogojampi (Banyuwangi) yang juga adalah pemilik tempat yang akan dijadikan lokasi pondok pesantren yakni H. Sanusi. Pemilik tanah dan dan rumah di desa Berasan itu (H. Sanusi-red) akhirnya mau menjual rumah dan tanahnya kepada KH. Abdul Manan.
Tahun 1929, KH. Abdul Manan pindah dari Jalen ke Berasan dan mendirikan Pondok Pesantren Minhajut Thullab. Sedangkan Pondok Pesantren Jalen diteruskan olehh adik iparnya yakni Nyai Mawardi.
Awal berdiri pondok pesantren hanya berupa sebuah rumah dan mushola kecil dan bangunan pondok bambu yang beratap daun alang-alang, sangat memprihatinkan.
Semakin lama, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, bahkan mulai kerepotan menampung jumlah santri, sehingga ia menambah jumlah lokasi pondok dengan membeli sebagian tanah penduduk setempat sekaligus membuat bangunan masjid dan bangunan kamar-kamar pondok pesantren yang permanen.

Tidak ada komentar
Posting Komentar