Ibnu Athaillah mengatakan, “Berpikir itu adalah perjalanan hati di dalam semua lapangan kehidupan makhluk”
Ybia Indonesia - Berpikir adalah pelita yang hidup di dalam hati manusia. Ia merupakan jalannya perasaan yang dikirimkan melalui otak untuk dilaksanakan oleh anggota badan dan panca indera.
Hamba Allah yang suka berpikir sebagai kecerdasan intlektual, akan menghidupkan ruhaninya/kecerdasan spiritual, menyegarkan otaknya dan menyegarkan pelaksanaan ibadahnya.
Oleh karena itu kita semaksimal mungkin mempergunakan akal pikiran untuk menganalisa, meneliti semua makhluk dan alam semesta ciptaan Allah, agar iman dan keyakinan makin hidup dan makin meningkat kualitasnya. Saat melihat semua alam dan ciptaan-Nya yang ditangkap oleh penglihatan, diproses di dalam alam pikiran, dirasakan kebesaran-Nya dalam hati, sebagai anugerah Tuhan yang perlu dimanfaatkan sebagai ibadah.
Berpikir yang dianjurkan Allah kepada manusia ialah memperhatikan kebesaran kekuasaan Allah yang telah dijelmakan pada makhluk yang diciptakannya di alam ini.
Semua yang ada di alam semesta ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir, sebagaimana yang tersurat dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 190-192:
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ
Inna fii khalqis samaawati wal ardi wakhtilaafil laili wannahaari la Aayaatil liulil albaab
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allaziina yazkuruunal laaha qiyaamaiw-wa qu'uudanw-wa 'alaa juno obihim wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardi Rabbanaa maa khalaqta haaza baatilan Subhaanak faqinaa 'azaaban Naar
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
رَبَّنَاۤ اِنَّكَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَيۡتَهٗ ؕ وَمَا لِلظّٰلِمِيۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ
Rabbanaaa innaka man tudkhilin Naara faqad akhzai tahuu wa maa lizzaalimiina min ansaar
192. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zhalim.
Rasulullah melihat suatu kaum, maka ditanya: “Mengapakah kamu?”
Jawab mereka: “Kami sedang memikirkan zat Allah.
Maka Nabi bersabda: “Berpikirkah (perhatikanlah) makhluk Allah, dan jangan memikirkan zat Allah, maka sungguh kamu tidak dapat memperkirakannya (menjangkaunya), atau membatasi kebesaran-Nya.”
Menghidupkan pikiran untuk memikirkan, menganalisa, menelitinya untuk mendapat keyakinan yang kokoh diwajibkan dalam melaksanakan amal ibadah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama manusia masih mampu berpikir, selama itu pula ia berkewajiban memikirkan semua ciptaan Allah dan mengambil manfaat bagi kehidupan manusia.
Ibnu Athaillah mengingatkan lagi, “Berpikir itu pelita hati, apabila ia padam, maka sirnalah cahaya terang dari hati itu.”
Memikirkan ciptaan-Nya untuk menghidupkan rasa beragama dan berke-Tuhan-an dalam hati dan jiwa manusia, timbul dari perasaan iman. Memikirkan alam sekitar dengan makhluk ciptaannya yang dapat menimbulkan ilmu pengetahuan yang dikembangkan bagi kesejahteraan lahir dan batin manusia.
Apabila akal yang tidak suka merenungkan kebesaran kekuasaan Allah, maka akan menjadi gelap, karena dipenuhi oleh kebodohan dan tipu daya.
Ibnu Athaillah membagi berpikir itu dalam 2 macam, sebagaimana ungkapannya: “Berpikir itu ada 2 macam: Pertama adalah pikiran yang timbul dari iman percaya dan pikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil, adanya makhluk menunjukkan adanya khalik, ialah mereka ahli i’tibar. Sedang yang kedua bagi mereka yan terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan mata hatinya.”
Sebagian kaum saleh dan wali Allah, ada yang memendekkan pandangan hanya kepada Allah sebagai pencipta. Mereka tak perlu memandang jauh pada semua ciptaan Allah hanya untuk mengenal siapa Sang pencipta. Mereka mengenal Allah dan tenggelam dalam kesaksian atas kehadiran-Nya tanpa diperbantukan oleh ciptaan-ciptaan Allah.
Yang mereka lihat dari ciptaan-ciptaan itu hanya betapa besar dan agungnya sifat wahdaniyat yang Allah miliki. Setiap melihat gunung, langit, bumi, hamparan laut dan samudera yang tampak hanyalah keagungan Sang Pencipta.
Beda halnya dengan kalangan awam. Mula-mula melihat ciptaan untuk mengetahui siapa penciptanya. Seolah-olah benda-benda itu memang benar-benar ada. Padahal wujudnya hanya pantulan dari wujud hakiki. Lantas setelah mengamati benda-benda itu lalu terjebak dalam pertanyaan, siapakah yang menciptakan semua ini? Siapa pula yang telah mengatur semua ini sedemikian rapi sehingga tidak saling tumpang tindih? Baru setelah itu sadar, bahwa memang sudah semestinya setiap ciptaan pasti ada yang menciptakan, setelah melalui proses perenungan yang panjang dan menyadari bahwa Allah sebaik-baiknya Dzat Pencipta.
Para sufi diberikan kemampuan untuk melihat kebesaran dan kekuasaan Allah yang terhampar di alam semesta dan jagad raya ini. Mereka tidak berhenti pada keindahan dan kemegahan sesuatu yang tergambar di alam ini. Penglihatan dan pikirannya selalu tertuju kepada Allah swt. Seperti untaian puisi Jalaluddin Rumi:
“Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun, kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai perwujudan dari kasih-Nya.”
Alfaqier G.E.Dip

Tidak ada komentar
Posting Komentar