Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag.17) "Nuzulul Qur'an"

Tidak ada komentar

 


Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Ybia Indonesia - Al-Quran, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, adalah mukjizat yang tiada tanding. Ditinjau dari keindahan kalimatnya, ia memiliki ketinggian nilai sastra yang tiada tara kandungan, isinya pun sangat beragam mencakup seluruh aspek kehidupan dan ilmu pengetahuan, baik fisik maupun metafisika. 

Tak seorang pun yang dapat membuat kitab yang menyamai atau menandingi Al-Quran, sebagaimana firman Allah dalam surah Bani Israil (Surat Al-Isra) Ayat 88:


قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا


Qul la`inijtama'atil-insu wal-jinnu 'alā ay ya`tụ bimiṡli hāżal-qur`āni lā ya`tụna bimiṡlihī walau kāna ba'ḍuhum liba'ḍin ẓahīrā

 Artinya: "Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat (kitab) serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, biarpun sebagian dari mereka membantu sebagian (yang lain)."

Al Quran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam.

Al Quran adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, 14 abad yang silam. 

Turunnya wahyu pertama merupakan peristiwa yang bersejarah dan fenomenal dalam penyebaran ajaran Islam oleh Muhammad SAW kepada seluruh alam. Peristiwa ini merupakan tonggak kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam penyebaran ajaran Islam. Ketika pada masa itu, kondisi masyarakat suku Qurais benar-benar dalam keadaan kejahiliyahan.

Salah satu kebiasaan baginda Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul adalah melakukan tahannust (menyepi) atau Berkhalwat, semacam kegiatan personal melakukan renungan total tentang kondisi sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya, merefleksikan zamannya yang menghinakan akal sehat yang kemudian disebut jahiliah.

Nyaris kejahiliahan itu menimpa semua sektor kehidupan. Ekonomi dikelola hanya tertumpu pada semangat mengejar keuntungan belaka dengan cara licik; sosial dijangkarkan pada sentimen perkauman yang sempit dan sering kali berkobar menjadi gelaran konflik berdarah (safak ad-dima') walaupun pemantiknya hanya persoalan sepele. 

Politik benar-benar dengan sempurna menerapkan prinsip menghalalkan segala cara, sedangkan kebudayaan diacukan pada haluan hanya melulu menjadikan materi sebagai daulat utama.

Tentu saja kedudukan perempuan sama sekali berada di titik nadir bahkan kelahirannya dianggap aib bagi keluarga sehingga harus lekas dikubur hidup-hidup. 

Dalam sistem keyakinan lebih parah lagi.Kemusyirakan, penyembahan berhala, dll terjadi dimana-mana.

Tempat favorit sang nabi dalam melakukan tahannuts (menyepi) itu adalah sebuah gua yang berada di tebing Gunung Nur (Jabal Nur). Kurang lebih 5 km arah utara dari Masjidil Haram.

Di gua itu Nabi bertafakur, mengosongkan hati, menyatukan sukma dengan Yang Mahakuasa, sekaligus menyampaikan seluruh keresahan jiwanya, mengadukan persoalan sosial yang menimpa masyarakatnya.

Gua yang menjadi situs rohaniah yang menggambarkan bagaimana Muhammad SAW seorang diri mewafakan tubuhnya demi melakukan transformasi Spiritual dan sosial. 

Naik ke gunung batu bukan hal mudah, sekali terpeleset yang menjadi pertaruhannya ialah nyawanya sendiri. 

Dalam musim terik menyengat (Ramadan artinya adalah cuaca yang membakar), kaki itu menaiki batu demi batu menuju puncak Hira, menyendiri, dan larut dalam hening yang menggetarkan, dalam munajat sepi yang tak ditemani satu orang pun. Hanya dirinya dan Tuhan. Tanpa arahan wahyu kecuali mengikuti rute suara hatinya yang bening.

Tepat pada 17 Ramadan itulah, hijab terbuka. Tuhan mengutus Jibril menyampaikan firman-Nya. 

Dahsyatnya ternyata ayat yang pertama kali turun ialah gelora agar sang Nabi itu pandai membaca. Iqra, bacalah. Bismi rabbik, atas nama Tuhanmu. 

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

(iqra` bismi rabbikallażī khalaq)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan".

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

(khalaqal-insāna min 'alaq)

"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah".

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

(iqra` wa rabbukal-akram)

"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia'.

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

(allażī 'allama bil-qalam)

"Yang mengajar (manusia) dengan pena".

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

('allamal-insāna mā lam ya'lam)

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya". (surat Al Alaq 1-5)

Seruan-Nya yang pertama bukan perintah haji berkali-kali atau umrah berulang kali, bukan pula puasa dan shalat dalam hitungan tak terbilang dan apalagi kewajiban menegakkan syariat, tapi keniscayaan agar terampil membaca.

Dalam peradaban mana pun juga 'membaca' adalah sebuah metafora dari pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan. Iqra merupakan simbol keharusan menyiapkan sumber daya insani. 

Tanpa etos iqra, perubahan sosial yang dibayangkan tidak akan pernah terwujud. 

Iqra yang menjadi sumbu kebudayaan itu memiliki rohnya yang berwibawa. 

Seolah Tuhan hendak mengatakan bahwa kejahiliahan itu bermula karena absennya kerja iqra dan atau membaca itu dilakukan tapi sama sekali tidak melibatkan nilai-nilai ketuhanan, tidak bismi rabbik.

Pengalaman spiritual itu tentu saja sangat mengguncang dirinya. 

Di sebuah gua, di tepi gunung berbatu, tiba-tiba hadir makhluk asing dengan perintahnya yang juga asing. 

Menjadi beralasan sekembali ke rumahnya, istrinya disuruhnya untuk lekas menyelimutinya. Justru ketika selimut sudah menutupi sekujur tubuhnya, Tuhan kembali datang dengan firman susulannya, "Wahai yang berselimut bangun, dan peringatkan. 

Agungkan Tuhanmu, sucikan pakaianmu, lepaskan dirimu dari perbuatan keji."

Konteks turunnya Alquran seperti itu menarik kita renungkan. Keharusan 'membaca' dan 'membuang selimut' inilah yang tidak hadir dalam kesadaran umat Islam hari ini, dari batang tubuh bangsa kita sekarang. 

Padahal, yang menjadi energi umat Islam mampu mencapai puncak peradaban pada abad pertengahan sehingga melahirkan tokoh-tokoh besar semacam Ibnu Sina, al-Kindi, Al-farabi, al-Khawarizmi, Ibnu Rusydi, yang kemudian mengilhami kebangkitan dunia Barat yang sedang berada dalam limbo kemunduran ialah semangat membaca itu.

Seandainya membaca melambangkan etos ilmiah, 'menyingkirkan selimut' ialah etik imperatifnya. 

Wahai yang berselimut kebodohan, singkirkanlah dan bangunlah lembaga pendidikan bermutu. 

Wahai yang berselimut kefakiran, singkirkan sikap malas dan seriuslah menggumuli persoalan ekonomi. 

Wahai yang berselimut kerakusan, singkirkan dan tumbuhkan kedermawanan. Wahai yang berselimut politik kecurangan, singkirkan dan tancapkan nilai-nilai politik luhur yang menjunjung tinggi keutamaan dan kemanusiaan.

Kalau kita simak, nyaris sepanjang Nabi Muhammad SAW meniti tugas kenabian, perhatian dan kebijakan yang diambil selalu diorientasikan untuk sektor pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan. 

Kita baca dalam sekian hadisnya, bagaimana laki-laki dan perempuan dibebani kewajiban mencari ilmu. 

Belajar sepanjang hayat dipromiskannya setiap saat, carilah ilmu dari mulai buaian bunda sampai lubang kubur. Malah tatkala dalam sebuah pertempuran mendapatkan tawanan, tawanan itu bisa bebas hanya dengan dua opsi: √pertama, menebusnya dengan sejumlah uang dan uang itu wajib masuk kas negara yang dikhususkan bagi dunia pendidikan. 

√Dan kedua, apabila tawanan itu kategorinya miskin, dia wajib menularkan keterampilan baca tulisnya kepada anak-anak muslim yang masih buta aksara.

Tentu saja kalau kita membaca Alquran akan dengan mudah menemukan ayat-ayat lainnya yang senapas dengan iqra.

Alquran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. 

Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. 

Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam. 

Seandainya kita sampai pada kesadaran 'aku berpikir maka aku ada' sebagai penanda modernisme-rasionalisme, dalam jalur yang sama Nabi SAW menyerukan agama itu adalah akal, tidak beragama mereka yang tidak pernah menggunakan akalnya. Ad-dinu huwa al-aqlu li dina li man la aqla lahu.

Inilah yang kemudian disimpulkan Soekarno dalam Surat-Surat dari Ende bahwa Islam itu adalah agama berkemajuan, Islam is progress. 

Bung Karno menyebutkan ciri kemajuan itu ialah penghargaan terhadap rasio, terhadap nilai-nilai modernitas. 

Islam yang benar yang disebutnya sebagai 'api Islam' ialah Islam yang belum terbenam dalam lumpur sikap taklid dan tahayul, Islam yang sigap berdialog dengan roh zaman, menjadi pandu bagi langkah-langkah perubahan sosial termasuk bisa membebaskan umatnya dari sekapan kolonialisasi dan kolonialisme.

 Merenungkan Nuzul Quran ialah mengingat kembali sesuatu yang hilang dalam diri umat Islam: pentingnya ilmu pengetahuan. 

Atau dalam istilah #kaP, kita harus menghentikan Islam mitologis dan ideologis dan kita harus mulai bergeser masuk ranah Islam epistemologis.

Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi “theory of knowledge.

Beberapa pendapat bahwa epistemologi adalah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi itu.

Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kebenaran pengetahuan. 

Jadi objek material dari epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.

Sedangkan psikologi sufistik yaitu suatu cabang kajian saintifik yang mengkaji, mempelajari dan meneliti perilaku pengalaman spiritual para sufi ketika berinteraksi dengan Rabb-nya, yaitu Allah SWT serta bagaimana pengaruhnya terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan disekitarnya.

Epistemologi telah menjadi perhatian utama para cendekiawan Islam yang berusaha bergulat dengan Integrasi Pengetahuan. 

Para Cendekiawan menekankan bahwa Alquran dan pengajaran Nabi Muhammad SAW adalah epistemologi Ilmu Islam itu sendiri karena keduanya mengandung prinsip-prinsip dasar untuk Filsafat Islam sebagai serta ilmu-ilmu lainnya.

Islam merevolusi pemikiran manusia dan karena itu ada banyak dalam Al-Quran dan dalam ajaran Nabi Suci (SAW) yang merupakan bahan sumber untuk Filsafat Islam dan epistemologi. 

Dengan lahirnya Islam ada juga kelahiran berbagai cabang Pengetahuan dan Filsafat Islam adalah salah satu cabang paling penting.

Alasan yang mendasari mengapa Al-Quran telah menjadi sumber epistemologi dalam Islam sejak diturunkan ke Utusan Allah yang terakhir adalah bahwa ada banyak ayat dalam Al-Quran yang sangat mendorong umat Islam dan semua manusia untuk mengejar tanpa henti, belajar tak kenal lelah, keberanian intelektual dan fenomena alam lainnya.

Kategori-kategori yang digunakan dalam Al-Qur'an tentang dasar epistemologi Islam, telah menggunakan berbagai kategori seperti Tadabbur untuk menekankan pada pemahaman Al-Quran secara mendalam, Tafaquh untuk memahami semangat keagamaan di balik perintah din di Dengan cara yang mencakup, Tafakkur untuk mempelajari sifat alam semesta dan berbagai fenomena secara ilmiah, Taaqul untuk merenungkan pengertian akal sehat yang memiliki implikasi moral dan spiritual yang lebih dalam bagi nasib manusia, dan akhirnya 'Ilm dan Hikmah untuk mengarahkan pikiran manusia ke tingkat tertinggi puncak pengetahuan dan keunggulan kognitif dan persuasif, mencakup semua kontur dan cakrawala sains dan teknologi. 

Epistemologi Islam, dengan demikian, adalah subjek yang luas dan tersebar di teori-teori pengetahuan yang diprakarsai di bawah bimbingan Al-Quran dan perlindungan Nabi (SAW).

Visi Al-Qur'an tentang alam semesta dalam pembentukan paradigma epistemologis Islam, Al-Quran dan Sunnah telah memberikan dorongan dan menjadikan subjek ini sangat maju dan berkembang.

Bahwa hubungan antara Islam dan bahasa Arab sangat dekat sejak wahyu Al-Quran dalam bahasa Arab, dan dengan demikian ajaran dan prinsip-prinsipnya juga disampaikan dan diajarkan kepada para sahabat nabi dalam bahasa Arab. 

Mengingat pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa utama di mana epistemologi Islam diperkuat dan dipertahankan hingga saat ini, Islam dan bahasa Arab yang dianggap kaya telah saling menguatkan.

Tiga langkah yang harus diselesaikan dalam mengislamkan pengetahuan, sebagai berikut

(1) semua ilmu sosial dan manusia dari Barat harus diperiksa secara kritis dan kelemahan dan kekurangannya harus ditunjukkan. di luar. Elemen-elemen yang bertentangan dengan ideologi kita juga harus ditunjukkan.

(2) sisanya harus dikodekan ulang dan dinyatakan kembali agar sepenuhnya sesuai dengan tradisi intelektual kita.

(3) itu harus diintegrasikan dengan literatur klasik kita pada subjek sehingga, di satu sisi, eksperimen intelektual dan penemuan dunia modern sepenuhnya dan sesuai digunakan, dan di sisi lain, ilmu tradisional kita juga direvitalisasi dan dihidupkan kembali.-


Semoga bermanfaat...

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Tidak ada komentar

Posting Komentar