Ybia Indonesia - Makam Mbah Abdul Wahid yang ada di Tingkir Lor Kecamatan Tingkir Kota Salatiga merupakan salah satu keluarga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di daerah tersebut jarang ditemukan rumah warga dan relatif sepi, terlebih makamnya berdampingan dengan makam umum masyarakat setempat, namun bagian komplek makam Mbah Abdul Wahid cenderung naik ke atas dan dikelilingi makam-makam kuno yang berupa tumpukan batu-batu andesit yang mirip dengan batu candi, begitupun makam Mbah Abdul Wahid.
Mbah Abdul Wahid merupakan salah satu pasukan telik sandi (mata-mata) pada Perang Jawa sekitar tahun 1825 dan ditempatkan di Salatiga.
Juru kunci makam Mbah Wahid, Sadzali Marjan mengatakan bahwa Mbah Abdul Wahid bergabung dengan laskar yang di Pimpin oleh Kiai Modjo.
Mbah Wahid ini ditugaskan sebagai memata-matai pergerakan Belanda di Salatiga dan cukup lama ikut dalam perang melawan penjajah.
Dalam video Youtube yang tersebar, Mbah Marjan juga menceritakan asal mula Mbah Abdul Wahid bisa sampai di Salatiga. Saat perang Diponegoro berakhir, penjajah memiliki ide yang sangat buruk, mereka memanggil Pangeran Diponegoro sebagai komandan perang untuk menghadapi Belanda dengan dalih perundingan. Dalam kesempatan tersebut, Pangeran Diponegoro memiliki firasat yang kurang baik akhirnya sebelum berangkat ia sempat berpesan kepada para santrinya termasuk pasukan nya. Pesan tersebut adalah “apabila Pangeran Diponegoro tidak pulang lagi, maka kalian (para santri dan pasukannya) untuk pulang ke kampung halaman masing-masing dan masih ada satu komando yaitu di setiap halaman rumah, mushola atau masjid tanamlah pohon sawo,” firasat tersebut terjawab, Pangeran Diponegoro ditangkap pasukan penjajah dengan kelicikannya.
Oleh karena itu, tidak heran apabila para kiai Jawa terdahulu di halaman depan rumahnya terdapat pohon sawo, dapat dipastikan ia adalah murid atau pasukan Pangeran Diponegoro. Di Tingkir Salatiga ada dua masjid tua yaitu Masjid Al Fudhola dan Masjid Sabilul Muttaqin yang mana kedua masjid tersebut dulunya di halaman depan terdapat pohon sawo. Salah satu khatib di Masjid Sabilul Muttaqin adalah Mbah Kiai Abdan yang asli orang Tingkir Salatiga dan dapat dipastikan pasukan Diponegoro. Menurut Mbah Marjan, Mbah Abdul Wahid diperkirakan pulang ke Tingkir Salatiga diajak oleh Mbah Kiai Abdan dan wafat di Tingkir. Mengenai peninggalannya belum dapat dipastikan karena Mbah Abdul Wahid tidak meninggalkan situs seperti Mushola, di Tingkir.
Makam Mbah Abdul Wahid sekarang sudah sangat nyaman untuk diziarahi karena sudah terdapat pendopo dan tangga untuk menuju makam agar para peziarah mendapatkan kenyamanan. Di dalam pendopo tersebut terdapat silsilah Mbah Abdul Wahid yang tersambung sampai Raden Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Dengan perincian sebagai berikut: Mbah Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Abdurrahman (P. Sambo Lasem) bin Pangeran Benowo bin Joko Tingkir bin Abdul Aziz bin Maulana Ishaq hingga Rasulullah ﷺ.
Sumber : Abdullah Faiz dan Tribun Jateng.com


Tidak ada komentar
Posting Komentar