Proses Perjalanan Ruhaniah

Tidak ada komentar

 


Oleh: Abah Mawlana Habib Luthfi


Ybia Indonesia - Dua orang salik sowan kepada Abah Mawlana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Pekalongan. Pada saat itu ada tamu dari Makkah. Tamu ini membawa hadiah untuk  Abah, kayu gaharu, minyak wangi pati gaharu dan parfum.  

Abah Mawlana Habib Luthfi membakar beberapa keping kayu gaharu, setelah menjadi arang, beliau memberikan sekeping kecil pada salah satu salik yang sowan. Mawlana Habib Muhammad Luthfi mengambil minyak wangi pati gaharu, menciuminya lalu memberikan pada salik yang lain. "Sambil beliau berucap, pertama kali dipakai memang kurang harum tapi semakin lama akan semakin harum semerbak."

Kita seperti kayu gaharu, hanya akan keluar harumnya setelah dibakar. Dibakar api kerinduan pada-NYA yang membuat kita akan menempuh Jalan (Thariq), menyusuri lembah dan mendaki puncak-puncak gunung demi mencari Sang Kekasih.

Kita seperti minyak wangi, sudah jadi, sudah sejak azali hingga abadi kita telah dibekali minyak wangi dalam diri, yaitu Ruh yang suci. Tapi tidak serta merta kita bisa mencium harumnya, butuh waktu hingga keharumannya keluar dan semerbak wewangi.

Sedangkan parfumnya? Mawlana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya beliau mengambilnya untuk dipakai beliau sendiri. Itulah para Wali, Para Guru Ruhani, Para Mursyid. Sudah pasti wangi, sudah pasti harum semerbak, sudah pasti jadi. Langsung bermanfaat untuk umat. 

Tapi untuk mencapai proses itu kita butuh dibakar dalam api cobaan dan ujian yang seolah-olah tak pernah berhenti hingga kita menjadi arang yang tak lagi ingin puja puji tak lagi kecewa dengan caci maki, tapi sudah sirna semua ego diri. 

Menjadi manusia sempurna (al Insan al Kamil).


Semoga bermanfaat 

Oleh : Mad Syakoer

Tidak ada komentar

Posting Komentar