oleh : Hamdan Suhaemi
Pendahuluan
Ybia Indonesia - Kebanyakan orang Banten mengenal Pangeran Sunyararas itu yang dimakamkan di Tanara dekat jalan raya Tanara. Makam yang ramai diziarahi itu terletak di Desa Tanara Kecamatan Tanara Kabupaten Serang Provinsi Banten. Bahkan puncaknya makam Pangeran Sunyararas diziarahi puluhan ribuan orang saat haul Syaikh Nawawi al-Bantani di akhir bulan Syawal tiap tahun.
Tetapi sedikit yang mengetahui sejarah kehidupan Pangeran Sunyararas, kiprahnya dalam awal-awal dakwah Islam di wilayah Banten, perannya dalam menata pasukan laut kesultanan Banten di priode kepemimpinan pertama ayahnya yaitu Syaikh Maulana Hasanuddin bin Syaikh Syarif Hidayatullah ( Susuhunan Gunung Jati ) dengan gelar Panembahan Surasowan yang berkuasa sejak 1552-1570 M.
Riwayat Hidup
Ada beberapa silang pendapat terkait pribadi Pangeran Sunyararas ini, pertama menurut sejarawan unik Banten Yadi Ahyadi menyebutkan bahwa Pangeran Sunyararas ini adalah putera pertama Maulana Hasanuddin dari ibu seorang Puteri Kedatuan Indra Pura, kini masuk Jambi. Percis nama aslinya tidak terungkap, tapi masyhur disebut Puteri Indra Pura. Tentu dengan Maulana Yusuf satu ayah beda ibu. Karena ibu Maulana Yusuf adalah Ratu Ayu Kirana Purnamasidi binti Raden Fatah.
Namun di beberapa tulisan yang telah beredar terkait ibu kandung Pangeran Sunyararas, tercatat adalah Ratu Ayu Kirana Purnamasidi, bukan Puteri Indra Pura. Dengan demikian ia adalah adik kandung Maulana Yusuf. Silang pendapat ini tentu akan sulit dipastikan siapa sebenarnya ibunya Pangeran Sunyararas.
Sementara jika dianalisa, nama Pangeran Sunyararas ini ada kesamaan dengan Pangeran Pajajaran, atau adiknya yang lain Pangeran Pringgalaya, tidak menggunakan kata Arab. Yang berbeda dengan saudara tuanya yaitu Pangeran Yusuf ( Panembahan Pekalangan Gede ) dan Pangeran Yunus ( masyhur digelari Pangeran Arya Jepara ), dua orang ini anak dari ibu yang sama bernama Ratu Ayu Kirana Purnamasidi binti Raden Fatah, Sultan Demak. Artinya kalau Pangeran Sunyararas, Pangeran Pajajaran, Pangeran Pringgalaya dalam nama agak berbeda dengan puteranya Ratu Ayu Kirana, bisa sementara disimpulkan bahwa Pangeran Sunyararas, dan adiknya itu beribukan Puteri Indra Pura.
Indra Pura ini kerajaan di wilayah Suwarna Dwipa ( kini Sumatera ) mungkin pecahan dari Kerajaan Sriwijaya, yang dilihat secara asumsi bahwa kerajaan Indra Pura mewarisi gen para petualang lautan yang diwarisi peradaban kerajaan Sriwijaya.
Pangeran Jaga Lautan
Rerata orang Banten menduga bahwa Pangeran Jaga Lautan itu nama orang, lebih jauh lagi ketika nama asli Pangeran Jaga Lautan ini berbeda-beda, ada yang menyebutkan Syaikh Saefullah, ada pula yang mengatakan Syaikh Waliudin, bahkan ada yang " keukeuh " mengatakan bahwa Pangeran Jaga Lautan ayah dari Raden Keunyep, nama lain dari Pangeran Arya Wangsakara, ayah dari Syaikh Ciliwulung.
Padahal, jika melirik dari beberapa sumber rujukan antara lain dari Sajarah Banten Pupuh 8, bahwa Pangeran Jaga Lautan itu adalah Pangeran Sunyararas. Dengan kata lain bahwa Pangeran Sunyararas menjabat Jaga Lautan berdasarkan tugas dari ramandanya yaitu Kanjeng Maulana Hasanuddin, Sang Panembahan Surasowan. Tugas menata pasukan laut yang cakap, tangguh, perkasa dan bisa memenangkan perang di lautan.
Pangeran Jaga Lautan, jika disamakan dengan sekarang adalah Laksamana TNI Angkatan Laut dan Pangeran Sunyararas adalah Laksamana pertama kesultanan Banten di awal periode kepemimpinan Maulana Hasanuddin 1552-1570 M. Pangeran Sunyararas yang menjabat Pangeran Jaga Lautan ini, bukan saja ahli perang laut, tetapi juga adalah arsitek atau yang merancang kapal-kapal perang Kesultanan Banten.
Di masa kepemimpinan heroik Pangeran Sunyararas atas angkatan laut kesultanan Banten, diceritakan bahwa Kesultanan Banten telah memiliki kapal perang hingga 1000 unit, dan 1 unit kapal perang laut itu berisi 300 orang prajurit. Diantara seribu kapal tersebut, itu dirancang oleh Pangeran Sunyararas sendiri, adapun pusat pembuatan kapal tersebut ada di Curug Kota Serang kini, yang letaknya percis di Monumen Kapal Bosok. Jadi kayu-kayu atau material kapal lalu dihanyutkan lewat Sungai Wotgalih hingga menuju Sungai Kemayungan Pontang, dan di Kemayungan itulah dirakit ulang untuk kemudian dilarungkan ke lautan teluk Banten, sebagi pusat wilayah patroli.
Kapal-kapal angkatan laut Kesultanan Banten tersebut disamping digunakan untuk perang laut, itu juga digunakan sebagai patroli antar pulau. Masing-masing pulau itu dipatroli 5 kapal. Pulau-pulau yang dijaga itu antara lain pulau Temposa ( kini Pulo Rida ), pulau Sangiang, pulau Sebesi dan juga pulau Tunda. Terkhusus pulau Tunda, ini dipatroli oleh 5 kapal perang yang dipimpin oleh Pangeran Singaranu, sekaligus retrebusi kapal niaga yang masuk perairan Teluk Banten.
Wafat
Pangeran Sunyararas yang menjabat sebagai Pangeran Jaga Lautan wafat dalam usia sangat tua 91 tahun sejak kelahirannya di tahun 1540 M. Kemudian di kebumikan di Tanara, dengan meninggalkan anak keturunannya. Salah satu keturunannya yang lahir th. 1813 yaitu Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani adalah bintangnya ilmu di jazirah Arab ( Dunia Islam ), Sayyid Ulamail Hijaz, dan bergelar Imamul Haramain ( imamnya 2 kota suci Makkah dan Madinah ).
Serang (13-1-2023)
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Tidak ada komentar
Posting Komentar