Dari babat Islam Lumbang hingga masjid tiban sekargadung Pasuruan
Ybia Indonesia - Kurang lebih 200-an tahun yang lalu, kawasan pegunungan Lumbang (sebuah daerah di kaki gunung Penanjaan Pasuruan) dan sekitarnya belum mengenal Islam. Lumbang saat itu masihlah menganut hindu sebagaimana kepercayaan yang dianut oleh banyak masyarakat sekitar Tengger. Islam diperkirakan baru masuk tahun 1800-an setelah perang diponegoro usai, yang dibawa oleh seorang ulama keturunan Mbah Habib Soleh Semendi Winongan, yang bernama Sayyid Khoiruman alias buyut Aruman alias Mbah Raden Aruman.
Kyai Khoiruman seorang ulama pejuang dan pendakwah yang mewarisi darah pejuang dan ulama, ayahnya bernama Kiai Hamdani bin haris lebih dikenal dangan julukan Mbah Gede kebonsari merupakan ulama pengasuh ke-2 pesantren salafiyah pasuruan, dimana pengasuh pertamanya adalah kakek Mbah Gede yaitu Sayid Hasan Sanusi alias Mbah Slagah sosok ulama legendaris anti Belanda yg pesarean nya di samping stadion Untung Puropati Pasuruan.
Sedangkan Ibunya bernama Nyai Chomsa, Putri Dari Mbah Singopolo, yang pesareanya berada di Kauman Bangil yang tak lain adalah adik dari Mbah Slagah. Dari Kedua jalur nasab ayah dan ibunya bertemu, dalam satu kakek yaitu mbah Sa'ad Bin Mbah Syakarudin Bin Mbah Soleh Semendi Winongan dan satu nenek yaitu Nyai Habibah/hasbiyah binti Mbah sayid Arif Segoropuro.
Sejak muda beliau dikenal sebagai ahli tirakat, Alim, sakti dan juga Ahli Gaman (senjata pusaka). Berjalanan dakwah beliau bermula ketika nyantri di Banten, suatu ketika bermimpi melihat pohon besar di arah timur di kaki gunung yang nampak jelas dari kamar beliau, lantas muncul perintah untuk mendatangi dan menebang pohon tersebut. Mimpi itu ia adukan kepada gurunya. Sang guru memberikan petunjuk bahwa itu adalah perintah dakwah, sehingga berangkatlah beliau ke arah timur, memenuhi titah itu.
Ketika Khoiruman muda sampai di Mataram Islam kesultanan yogjakarta, telah sedang berlangsung perang kaum santri melawan kafir belanda yang dipimpin pangeran diponegoro, ramai para ulama, kiai dan santri bergabung dalam perlawanan ini dengan pusat gerilya di Goa Selarong. Sebagai santri Banten kiai Khoriman muda bergabung dalam perang sabil ini, sampai akhirnya perlawanan dipatahkan belanda dengan siasat licik menangkap Diponegoro.
Pasca perang diponegoro (1825-1830), semua veteran laskar Diponegoro diburu Belanda, tak terkecuali Mbah khoiruman, beliau pun menghindari perburuan belanda hingga ke Sumenep (karena sepenggal sejarah ini, beberapa orang menjulukinya Raden Aruman dari Sumenep), setelah dari Sumenep inilah perintah guru dan amanah dakwah yang tertunda karena panggilan perang sabil diponegoro, dilanjutkan kembali.
Setelah beberapa lama di penghujung Madura, Raden Aruman melanjutkan perjalanan menyebrang ke Banyuwangi, lalu dilanjutkan ke probolinggo, geser ke winongan pasuruan, masuk Banyubiru dan naik ke atas pengunungan Lumbang pasuruan, Disinilah ia bertemu dengan pohon yang sesuai dengan mimpinya saat nyantri di Banten, yang akan ditebang. Namun, kayu tersebut milik seorang pemangku adat berjuluk Mbahjayo seorang pendeta hindu sakti.
Singkat ceritan, Mbah Joyo mempersilahkan Mbah khoiruman menebang Pohon tersebut dengan syarat mampu mengalahkan kesaktian Mbah Joyo. Tak hanya pohon, seluruh pengikut Mbah joyo yg dipimpin Ki Lembuk akan diserahkan. Dalam adu tanding kesaktian itu Mbah joyo kalah, pohon ditebang dan seluruh pengikut mbah joyo menjadi pengikut mbah khoiruman dan memeluk Islam.
Sedangkan Mbah joyo memilih tetap menganut agama leluhurnya, sayid khoiruman dengan penuh toleransi tak mempermasalahkan hal itu, sebab hidayah adalah hak Allah. Namun selanjutnya Mbah Joyo pamit menyingkir keluar Menyepi masuk ke hutan pegunungan yang berada beberapa kilometer diatas pemukiman Lumbang, hingga meninggal di sana.
Setelah Islam dipeluk penduduk Lumbang dan sekitarnya, dan pengejaran atas laskar Diponegoro oleh belanda surut, mbah khoriman kembali ke Pasuruan. Perjuangannya di daerah Lumbang dilanjutkan oleh satu satunya putra beliau yang ikut ke Lumbang, bernama Abu Ngasinah Alias khoiruman Sani yg tetap tinggal dan berketurunan di Lumbang hingga saat ini, diantara keturunan beliau adalah Nyai Solihati, istri dari almagfurlah Kiai Abdullah Lumbang, Ustadz Hajar, Ustadz Zaki dan ramai lagi keturunan beliau yang menghidupkan syiar Islam.
Setelah kembali ke Pasuruan, Mbah khoiruman merintis dakwah di Sekargadung dan sekitarnya, sebuah desa dekat Sekarputih sekarang masuk kota Pasuruan. Di tempat ini Allah tunjukan karomah kewalian beliau dengan menghadirkan masjid utuh sekita, yang komplit dalam sekejap dengan beduk dan sumur tempat wudhu tanpa harus membangunya lebih dahulu, masyarakat menyebutnya sebagai Masjid "Tiban" Mbah Khoiruman
Demikian sekelumit kisah Mbah Kroiruman/Buyut Aruman, dari beberapa sesepuh dan keturunan beliau di desa Lumbang Pasuruan, namun tak diketahui kapan tahun wafat waliyullah pemilik masjid tiban Al Khoiruman Sekargadung ini, namun jasad suci beliau dikebumikan tepat di belakang masjid Tiban Al Khoiruman kelurahan Sekargadung, kec Purworejo, Kota Pasuruan ini.
Dengan mahabbah dan cinta kepada beliau semoga Allah berikan kehidupan kita, dan keturunan kita berkah dan jiwa perjuangan. Alfatihah..
Disarikan dari
1. Tausyiah Gus Rohmad Bin KH. Abdullah saat halal bi halal Dzuriah Mbah Khoiruman di Pasuruan 26 April 2023
2.Kisah mbah kyai Salim Gambiran
3.Kisah Mbah Waqori Bin Salman Lumbang
4.Kisah buyut Napan Bin Umar Hasan khoiruman Lumbang
5.Kisah Sesepuh Wedar, Dst.

Tidak ada komentar
Posting Komentar