Dialog Intelektual, Salah satu Cara Dakwah Sunan Ampel

Tidak ada komentar

 


Ybia Indonesia - Kalau metodologi dakwah Sunan Ampel dgn masyarakat akar rumput dilakukan dgn cara pembauran dan pendekatan, beda halnya dengan metode yg ditempuh ketika menghadapi orang-orang cerdik dan cendekia. Pendekatan intelektual dgn memberikan pemahaman logis adalah alternatif yg beliau tempuh.

DIALOG DENGAN SEORANG BIKSU BUDHA 

Hal ini sebagaimana tercermin dalam dialognya dgn seorang biksu Budha.

Suatu ketika, seorang biksu datang menemui Sunan Ampel. Kemudian terjadilah percakapan seputar akidah berikut:

Biksu: Setiap hari Tuan sembahyang menghadap ke arah kiblat. Apakah Tuhan Tuan ada di sana?”

Sunan Ampel: Setiap hari Anda memasukkan makanan ke dalam perut agar Anda bisa bertahan hidup. Apakah hidup Anda ada di dalam perut?”

Biksu itu diam tidak menjawab. Tapi dia bertanya lagi, “Apa maksud tuan berkata begitu?”

“Saya sembahyang menghadap kiblat, tidak berarti Tuhan berada di sana. Saya tidak tahu Tuhan berada di mana. Sebab, kalau manusia dapat mengetahui keberadaan tuhannya, lantas apa bedanya manusia dengan Tuhan? Kalau demikian buat apa saya sembahyang?!”

Cerita berakhir. Dan si biksu kemudian masuk Islam karena ia gamang akan kemurnian ajaran agamanya. Satu ending yang sangat memuaskan. Tidak hanya bagi si pelaku cerita, tapi juga untuk kita: sebuah pelajaran tentang metodologi dakwah di hadapan orang yang tidak menganggap Allah SWT sebagai Tuhan.

Sunan Ampel lebih menggunakan pendekatan intelektual dengan memberikan pemahaman tentang Islam melalui wacana intelektual dan diskusi yang cerdas dan kritis serta dapat dinalar oleh akal. Cerita di atas adalah bukti sejarahnya.

Dialog Sunan Ampel-biksu telah mengingatkan kita kepada jawaban Nabi Ibrahim as. yang dilontarkan kepada raja Namrud ketika beliau dituduh menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Saat itu Nabi Ibrahim berkata “Bahwa, Tuhan yang paling besar inilah yang melakukannya”.

Bedanya, Namrud tidak pernah mau menerima kebenaran itu meski dia mengetahuinya. Kemudian kita bertanya, mungkinkah orang sekelas biksu dapat ditaklukkan hanya dengan melalui pendekatan budaya? Bisa jadi, tapi mungkin sulit.

Urgensitas budaya sebagai media dakwah alternatif memang tak bisa dibantah. Sejarah juga membuktikan bahwa pendekatan kultur-budaya yang dimainkan oleh Sunan Kalijaga berhasil dengan sangat gemilang. Tapi, sejatinya, pendekatan kultur-budaya hanya relevan untuk komunitas masyarakat kelas menengah ke bawah.

Sedangkan untuk obyek intelektual kelas atas mungkin sangat pas bila menggunakan jalur seperti yang ditempuh Sunan Ampel. Hasil dari dua metodologi yang dipakainya adalah beliau telah berhasil menciptakan harmoni antara ulama dan umara, antara akar rumput dan kalangan pemerintahan.


Sumber : informazone

Tidak ada komentar

Posting Komentar