Ybia Indonesia - Dengan cinta orang akan lebih semangat dan ikhlas untuk melakukan setiap sesuatu yang disenangi oleh yang dicinta.
Dengan cinta pula, ia tidak lagi bertanya mengapa dan kenapa, karena semuanya dilakukan atas dasar cinta yang sudah melebihi segalanya.
Karenanya, seharusnya cinta diberikan pada pihak yang memang berhak mendapatkan cinta dan layak untuk dicinta.
Menurut Imam Al-Ghazali, tidak ada yang berhak untuk dicinta kecuali Allah Ta’ala. Jika ada seorang hamba meletakkan cintanya kepada selain Allah.
Jika ia benar-benar mengetahui sifat-sifat Allah, tentu ia tidak akan memperdulikan manusia dan fokus mencintai Allah Dzat Yang Mahakuasa. Namun demikian, mencintai Allah artinya juga harus mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, ulama, orang-orang bertakwa dan para kekasih Allah.
Al-Ghazali menjelaskan:
لِأَنَّ مَحْبُوبَ المَحْبُوْبِ مَحْبُوْبٌ وَرَسُوْلَ المَحْبُوْبِ مَحْبُوبٌ وَمُحِبُّ المَحْبُوبِ مَحْبُوبٌ
“Karena sesuatu yang dicintai oleh kekasih adalah seperti kekasih, utusan kekasih adalah seperti kekasih, dan pecinta kekasih adalah seperti kekasih pula.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, juz IV, halaman h. h. 301). Melihat penjelasan ini kita temukan bahwa hakikatnya tidak ada kekasih kecuali Allah.
Tidak ada yang berhak untuk dicinta selain Allah. Yang paling layak dan paling sempurna memenuhi 5 kategori cinta , hanyalah Allah dan bukan lainnya. Selain Allah mungkin hanya memiliki salah satunya, sedangkan Allah mempunyai keseluruhannya.
Tentu, jika orang masih memberikan cinta kepada selain Allah, disebabkan dangkalnya pengetahuan kepada-Nya.
Alfaqier G.E.Diponegoro
9 R 1444 H

Tidak ada komentar
Posting Komentar