Kisah Ki Ageng Tarub atau Joko Tarub merupakan satu legenda yang mengisi lembar cerita rakyat di Indonesia, khususnya untuk wilayah Grobogan, Jawa Tengah.
Ybia Indonesia - Bahkan, beberapa nama dukuh di Grobogan muncul berdasarkan kisah dari manusia yang menikahi bidadari tersebut.
Makam Ki Ageng Tarub berada di Desa Tarub, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 10 kilometer dari Grobogan, makam ini banyak dikunjungi para peziarah yang berasal dari daerah sekitar bahkan dari luar kota.
Suasana tenang dan sejuk di sekitar makam membuat peziarah berdoa dengan khusyuk.
Bila ruangan dalam area makam penuh peziarah, disediakan pondok kecil Paseban untuk peziarah lain menunggu sekaligus tempat istirahat sejenak melepas penat.
Makam Ki Ageng Tarub ditempatkan dalam sebuah pondok dengan atap genteng tiga tingkatan yang disusun melancip ke atas.
Lantai porselin putih bernada sama dengan porselin dinding pondok. Tepat di samping pondok, pohon Trembesi atau Munggur (Samanea saman) tumbuh rindang dan besar menjadi peneduh makam.
Bagian dalam makam Ki Ageng Tarub berada, didominasi oleh warna hijau. Makam dikelilingi pagar semen dan potongan pipa besi, dengan kelambu putih yang menutupi makam.
Kisah Ki Ageng Tarub sudah melekat dalam nadi kehidupan masyarakat Jawa, hingga dituang dalam naskah popular Sastra Jawa Baru berupa Babat Tanah Jawi.
Tokoh Ki Ageng Tarub sendiri dipercaya sebagai leluhur dinasti Mataram sejak abad 17 lalu.
Diceritakan, sewaktu muda, Ki Ageng Tarub bernama Jaka Tarub dan dikenal sebagai pemuda yang memiliki kesaktian dan senang menjelajah hutan hingga berburu di kawasan yang terkenal keramat.
Suatu ketika, Jaka Tarub berada di gunung yang terdapat telaga dan melihat tujuh bidadari sedang mandi.
Terpikat oleh pesona kecantikan bidadari, Jaka Tarub mengambil satu pakaian yang tergeletak di rerumputan tepi telaga, dibawa ke rumah dan disembunyikan di bawah tumpukan padi ketan hitam. Kemudian, kembali ke telaga sembari membawa pakaian milik ibunya.
Saat para bidadari selesai mandi dan hendak pulang ke khayangan, satu bidadari tak menemukan pakaiannya. Ia ditinggal sendirian oleh para saudarinya.
Dalam kebingungan, terucap pernyataan dari mulut bidadari itu bahwa bila ada laki-laki yang menolongnya akan dijadikan suami, bila perempuan akan dijadikan saudari. Jaka Tarub pun melemparkan pakaian pada bidadari.
Nawang Wulan, si bidadari, menepati ucapan. Pernikahan terjadi dengan syarat tak boleh menyibak rahasia menanak nasi saat sudah berumahtangga. Syarat disepakati hingga pernikahan dikaruniai putri bernama Nawangsih.
Awal keretakan bermula saat Nawangsih berada di ayunan dan Nawang Wulan hendak mencuci pakaian di sungai, saat sedang menanak nasi.
Sebelum menuju sungai, Nawang wulan mengingatkan kembali syarat yang tak boleh dilanggar Jaka Tarub, juga untuk mengayun putrinya.
Ketika Nawang Wulan sudah meninggalkan rumah, Jaka Tarub dilanda rasa penasaran. Ia pergi ke dapur, membuka tutup penanak nasi dan melihat isinya. Ternyata, sang istri hanya memasak satu bulir beras.
Nawang Wulan kembali dari sungai dan menuju dapur untuk melihat nasi yang sedang ditanak. Ia terperanjat karena bukan nasi yang sudah masak yang dilihat, tetapi masih satu bulir beras utuh.
Pertengkaran terjadi hingga berujung solusi untuk menumbuk banyak bulir padi, karena dibutuhkan buliran beras yang banyak untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari.
Sejak itu, saat hendak memasak nasi, Nawang Wulan harus menumbuk beras terlebih dahulu. Hingga, persediaan padi semakin menipis dan Nawang Wulan menemukan pakaiannya di bawah tumpukan padi.
Dengan pakaiannya, Nawang Wulan kembali ke khayangan meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsih. Ia berpesan pada Jaka Tarub bahwa hanya akan kembali sewaktu-waktu saat Nawangsih menangis kehausan air susu.
Jaka Tarub merawat sendiri Nawangsih hingga tumbuh dewasa. Suatu ketika, Jaka Tarub menerima utusan Brawijaya, Raja Majapahit, yang mengantarkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular untuk dirawat oleh Jaka Tarub.
Adapun utusan tersebut adalah Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan. Jaka Tarub mengetahui bahwa Bondan Kejawan adalah putra kandung Brawijaya dan meminta untuk tinggal bersama di desa, menjadi anak angkatnya dan berganti nama menjadi Lembu Peteng.
Akhirnya, Nawangsih menikah dengan Lembu Peteng dan dikaruniai anak bernama Ki Getas Pandawa.
Dari Ki Getas Pandawa inilah hadir seorang putra bernama Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut pendiri Kesultanan Mataram, Panembahan Senapati.
Apakah cerita di atas benar adanya atau hanya "Sanepo" saja??? Wallahu a'lam.
Yang jelas, ketika saya mencoba menanyakan kebenaran cerita tersebut, Sang Juru Kunci menyampaikan bahwa itu hanyalah sanepo atau kiasan saja.
Lalu apa arti dari kiasan-kiasan pada kisah Ki Ageng Tarub?
Panjaaaaaaang banget kalau dijelaskan. Apalagi ditulis. Yang baca bisa sampai ketiduran.
Hidup memang tidak mudah, namun kita tidak boleh menyerah. Tetaplah semangat menjalani hari, meraih ridho illahi, menjemput Rahmat-Nya dengan suka cita.
Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar
Posting Komentar