Kajian Ilmiah dan Spiritual. Menelusuri Jejak Karuhun, Leluhur Nusantara dari Limbangan Garut

Tidak ada komentar




(dari berbagai sumber kajian dan penelitian)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 


Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali sayidina Muhammad


Ybia Indonesia - Suatu waktu KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) Sang Guru Bangsa dan seorang Ulama yang memiliki pengetahuan tentang Agama dan Sejarah Nusantara yang sangat luas, ketika masih hidupnya pernah berkunjung ke daerah Garut - Jawa Barat. 

Gus Dur mengadakan Silaturahmi dengan para Ulama dan Tokoh Masyarakat Garut.

Dalam kesempatan itu, salah satu poin yang disampaikan oleh Gus Dur di hadapan para ulama, umaro dan masyarakat Garut adalah bahwa pusatnya Indonesia adalah pulau Jawa, pusatnya pulau Jawa adalah Jawa Barat, pusatnya Jawa Barat adalah Garut dan pusatnya Garut adalah Limbangan. 

Banyak diantara hadirin yang merasa terkejut dengan ucapan Gus Dur itu.

Saat itu para tokoh merasa aneh bercampur penasaran, karena Gus Dur mana mungkin berbohong lagian tidak ada untungnya juga Gus Dur berbohong sebab Gus Dur bukan orang Limbangan. 

Kalau yang mengatakannya orang Limbangan bolehlah dengan tujuan misalnya ingin dihormati, tapi ini yang mengatakannya seorang Gus Dur,"  Yang Notabene bukan orang yang berasal dari Limbangan Garut.

Dari cerita teman-teman tentang ucapan Gus Dur itu, Sejak saat itu, #kaP terdorong untuk menelisik sejarah Limbangan. 

Dari delapan sumber sejarah Limbangan yang #kaP dapatkan, hanya tiga sumber saja yang bisa saya katakan sahih sebab lima sumber sisanya itu irasional dan mendekati mustahil, bahkan ada indikasi itu adalah sejarah yang ditulis oleh kolonial, untuk kepentingan de vide et infera (Politik Adu Domba yang dilakukan oleh Belanda).

Para pemerhati dan peneliti sejarah yang menemukan secarik tulisan lapuk di museum perpustakaan Universitas Leiden yang isinya menyatakan bahwa pusat kerajaan Nusantara yang membawahi 77 kerajaan di Nusantara itu ada di Limbangan. 

Selain dari hal di atas, ada keturunan dari kerajaan Samudera Pasai yang berkunjung ke Garut dan menyatakan bahwa di Limbangan ada sebuah kerajaan besar yang menguasai kerajaan-kerajaan Nusantara. 

Dari berbagai sumber kajian juga, mengindikasikan bahwa para dai yang menyebarkan agama Islam di Limbangan adalah langsung datang dari Arab. 

Kerajaan di Limbangan tersebut diduga kuat adalah Kerajaan Kerta Rahayu yang dipimpin oleh seorang ulama sekaligus umaro yang bernama Sunan Rumenggong.

Kata Rumenggong sendiri merupakan ucapan lidah sunda untuk menyebut gelar tertinggi sebuah kerajaan, Rama Hyang Agung. 

Selain itu, di daerah Limbangan juga ada sebuah bukit luas yang dekat dengan sumber air dan seolah pernah dihuni oleh masyarakat banyak dan tempat tersebut diduga bekas kerajaan Kerta Rahayu. 

Sebelum masuk ke tempat tersebut kita akan melewati jalan yang di sampingnya ada jajaran pohon, mana mungkin ada orang iseng menanam pohon tersebut sampai begitu banyak dan juga begitu rapih.

Wallahualam bisahab.

Kembali kepada penelusuran jejak sejarah dan karuhun Nusantara, #kaP mencoba menelusurinya dari petilasan-petilasan yang ada di Limbangan.

Atsar (Petilasan), Eyang Jagat Nata Siapakah yang ada di Pasir Batara Guru Limbangan Garut?

Atsar menurut bahasa, atsar adalah: sisa dari sesuatu (jejak), dalam istilah bahasa indonesia dikenal petilasan. Atsar (Petilasan), Eyang Jagat Nata Siapakah yang ada di Pasir Batara Guru Limbangan Garut? Jaman Mandala Kendan atau jaman Mandala Galuh?

Berikut ini penelusuran dari pada Mandala Kendan. 

Raja-Raja Kerajaan Kendan

1. Raja Maha Guru Manikmaya 536 M - 568 M, berasal dari keluarga Calankayana di India Selatan adalah seorang Pemuka Agama Hindu, karena Jasa-jasanya dalam menyebarkan Agama Hindu ditanah Jawa, Raja Tarumanagara pada waktu itu adalah Suryawarman menikahkan Putrinya yang bernama Tirta Kancana kepada Maha Guru Manikmaya ini sebagai Istri dan memperkenankan sang Menantu mendirikan Kerajaan Kendan ditambah sebagian dari Prajurit Taruma Nagara sebagai Pelindung Kerajaan Kendan, dan Maha Guru Manikmaya ini mempunyai Putra Mahkota yang bernama Raja Putra Suraliman, hal ini berdasarkan Naskah Pustaka Rajyarajya / Pustaka Bumi Nusantara Parwa II Sarga IV tahun 1602 Masehi yang tersimpan di Keraton Keraton Kasepuhan-Cirebon Jawa Barat.  

2. Raja Putra Suraliman 568  - 597 M, menikah dengan Dewi Mutyasari Putri dari Kerajaan Kutai Bakula Putra bergelar Raja Resi Dewa Raja Sang Luyu Tawang Rahiyang Tari Medang Jati, mempunyai 1 orang anak laki-laki bernama Kandiawan dan 1 orang anak Perempuan bernama Kandiawati, menguasai Nagreg dan sampai Medang Jati Garut Jawa Barat. 

3. Raja Kandiawan 597  - 612 M, memindahkan Pusat Kerajaan Kendan dari desa Citaman Nagreg ke Medang Jati di Cangkuang Garut Jawa Barat. 

Hal ini terbukti dari Situs Candi Cangkuang Garut didesa Bojong Mente Cicalengka kabupeten Garut Jawa Barat. Raja Kandiawan mempunyai 5 orang Putra yaitu: Mangukuhan, Sandang Greba, Karung Kalah, Katung Maralah dan Wretikandayun, yang masing-masing memerintah dan terbagi 5 daerah yaitu; Surawulan, Pelas Awi, Rawung Langit, Menir dan Kuli-kuli. 

Pada Akhir tahtanya ditunjuk Putra bungsu Wretikandayun sebagai Raja Kendan (Kelang) dan Sang Raja Kandiawan bertapa di Bukit Layuwatang, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Namun pada saat bersamaan di pesisir selatan wilayah Tarumanagara (Cilauteureun, Leuweung / Hutan Sancang dan Gunung Nagara) secara perlahan Agama Islam diperkenalkan oleh Rakeyan Sancang putra Kertawarman   

4. Raja Wretikandayun 612  - 702 M, memindahkan lagi Pusat Kerajaan Kendan / Kelang ke Galuh didesa Karang Kamulyaan , kecamatan Cijeungjing, Ciamis Jawa Barat sekarang ini.

Dengan Permaisuri Dewi Minawati anak dari Pendeta Hindu yaitu Resi Mekandria dan menurunkan 3 orang Putra yaitu ; Sampakwaja menjadi Resi Guru Wanayasa, Amara menjadi Resi Guru Deneuh dan Jantaka,  Mandiminyak. 

Hal ini berdasarkan Pusaka Naga Sastra, Pada masa itu Kerajaan Kendan (Kelang) berubah nama menjadi Kerajaan Galuh. Sedangkan Pada tahun 670 Masehi Kerajaan Induk Kendan  (Kelang) Galuh ini yaitu Taruma Nagara saat itu diperintah oleh Tarusbawa telah berubah menjadi Kerajaan Sunda dan menyetujui Pemisahan Kerajaan bawahannya Kendan (Kelang) menjadi Kerajaan Galuh, sehingga Kerajaan menjadi 2 bagian yaitu:

- Kerajaan Sunda bekas Kerajaan Tarumanagara dengan Rajanya Sri Maharaja Tarusbawa, menguasai wilayah pada bagian Barat, Ibu kota Bogor, Jawa Barat, berkuasa sampai tahun 723 M, hal tersebut berdasarkan carita  Parahiyangan, sedangkan menurut Prasasti Jaya Bupati yang ditemukan di Cibadak Sukabumi tidak menyebutkan Ibu kota kerajaan di Bogor.  

- Kerajaan Galuh bekas Kerajaan Kendan (Kelang)  dengan Rajanya Wretikandayun, menguasai wilayah bagian Timur, ibu kota Kawali di Ciamis, Jawa Barat. sehingga Raja Wretakandayun berani melepaskan diri dari Tarumanagara. 

Menurut Carita Parahiyangan, Putra Mahkota Galuh Mandi Minyak menikah dengan Parwati, putri Maharani Shima Putri dari Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, pernikahan melahirkan Rahyang Sena atau Bratasena yang berputra Sanjaya, Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 730 M. 

Namanya dikenal melalui prasasti Canggal ataupun naskah Carita Parahyangan. Sebagian para sejarawan menganggap Sanjaya sebagai pendiri Wangsa Sanjaya. 

Prabu Suraliman Kerajaan Kendang Bandung Garut (536-612 M)

Menelusuri jejak Situs Batu Kerajaan Kendang. Situs Batu Kerajaan Kendan terletak di Kampung Kendan, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg:

Bandung selain kaya wisata alam dan belanja, juga kaya akan wisata budaya. Salah satu yang menjadi wisata budaya dan sejarah itu yakni Situs Batu Kerajaan Kendan. Kerajaan ini telah ada sejak tahun 536 Masehi dan didirikan oleh Resiguru Manikmaya. 

Kerajaan inipun kemudian berkembang menjadi kerajaan besar bernama Galuh ketika kekuasaannya dipegang oleh Prabu Wretikandayun pada tahun 612 Masehi.

Batu Kasar dan Hitam

Nama Kendan berasal dari kata Kenan yang memiliki makna sejenis batu cadas, berongga dan didalamnya mengandung kaca yang berwarna hitam. 

Batuan inipun akan tampak kemilauan saat tersorot oleh sinar matahari. Memiliki permukaan yang sangat kasar dan tajam. Dan konon, jenis batuan semacam ini hanya terdapat di wilayah Kendan saja. 

Daerah Nagreg, yang ketika mudik lebaran sering kali menjadi titik kemacetan merupakan bekas ibukota Kerajaan Kendan. Ada banyak cerita dan versi yang berada di seputar Kerajaan Kendan ini. Dulunya di kerajaan ini sering digelar kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan disekitar kabuyutan dimana didalam kabuyutan tersebut biasanya ditandai dengan bangunan punden berundak.

Punden ini tersebar di beberapa tempat yang sering disebut orang sebagai candi. Istilah ini didasarkan adanya kemiripan bahan material dengan bangunan umat Hindu. Meskipun sebenarnya antara arsitektur punden dan arsitektur candi sangat jauh berbeda. 

Candi merupakan bangunan tertutup atau berdinding, sedangkan punden merupakan bangunan terbuka tanpa dinding maupun atap. 

Di dalam konsep tata ruang puseur dayeuh kerajaan pra-Islam di Tatar Sunda, bangunan punden berfungsi sebagai goah.

Selain ditemukan Arca Manik, di daerah ini juga sempat ditemukan mahkota serta sebuah pusaka nagasastra yang kemudian tersimpan di salah seorang sesepuh Kampung Kendan. 

Sebagai nagara rasa, hanya orang yang memiliki kehalusan rasa dan ketajaman bathin yang dapat merasakan peninggalan-peninggalan kerajaan Kendan yang sudah terkubur ratusan tahun lamanya. 

Dan sampai saat ini pun, belum dapat dipastikan dimana material bekas “karaton”-nya.

Sejarah Jawa Barat mencatat Kendan telah eksis sejak tahun 536 sampai dengan 612 M. Kendan berubah nama menjadi Galuh (permata) ketika masa Wretikandayun, penerus Kendan menyatakan diri melepaskan diri dari Tarumanagara (Sundapura). Karena Terusbawa merubah Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (pura). 

Sejak tahun 670 M di tatar sunda dianggap ada dua kerajaan kembar, yakni Sunda Pakuan dan Sunda Galuh.

Naman Kendan seolah tenggelam dalam kebesaran nama Galuh, sangat jarang diketahui masyarakat tentang wilayah dan kesejarahannya, kecuali beberapa masyarakat yang berminat mendalami sejarah Sunda. 

Bagi sejarawan sunda eksistensi Kendan tidak dapat dilepaskan dari Galuh. Kendan dianggap cikal bakal Galuh. Bahkan sejarawan Sumedang di Musium Prabu Geusan Oeloen membedakan Galuh Kendan dengan Galuh Kawali.

Letak Kendan

Kendan didalam catatan sejarah Jawa Barat diperkirakan terletak di suatu daerah di wilayah Kabupaten Bandung, ditepi sebuah bukit (Kendan), + 500 meter sebelah timur stasiun kereta api Nagreg. Terdapat daerah hunian yang bernama Kampung Kendan, Desa Citaman, Kecamatan Cicalengka. Namun berdasarkan on the spot, letak Kendan berada di sebelah barat stasiun nagreg dan termasuk Desa Nagreg.

Bukit Kendan yang dimaksud sangat jauh untuk disebutkan memiliki jejak Sejarah, mengingat perbukitan Kendan saat ini sudah hampir habis akibat tanahnya dieksploitasi untuk bahan pembuatan bata merah.

Disekitar Nagreg dan Citaman ditemukan pula suatu tempat yang disebut masyarakat sekitarnya “tempat pamujaan”, Sayang istilah tempat pamujaan dalam paradigma masyarakat sunda dewasa ini dikonotasikan negatif, karena sering digunakan “pamujaan”, suatu cara meminta harta kekayaan kepada mahluk gaib, dan dianggap menyekutukan Tuhan. Sama dengan istilah pesugihan.

 Nama Kendan lebih dikenal dalam dunia arkeologi, identik sebagai pusat industri perkakas neolitik pada jaman purbakala. 

Batu Kendan sudah lama disebut-sebut dalam dunia kepurbakalaan. Disinyalir daerah Kendan sudah ramai dihuni penduduk sejak sebelum tarikh masehi.

Pasir batu bukit Kendan sampai saat ini masih di eksploitasi penduduk setempat, karena mengandung bahan perekat yang sangat cocok untuk pembuatan gerabah. 

Di Daerah Kendan pernah ditemukan ditemukan sebuah patung kecil. Para akhli sejarah menyebutnya patung Dewi Durgi. (saat ini disimpan di museum Jakarta). Sedangkan di dalam prasasti Jayabupati disebutkan, bahwa : kekuatan Durgi dianggap kekuatan Gaib. Dalam cerita Lutung Kasarung, Nini Dugi dianggap berasal dari Kanekes.

Keberadaan patung Durga ditempat pemujaan menimbulkan spekulasi dari beberapa akhli sejarah. Mensinyalir daerah tersebut termasuk daerah “Kabuyutan”. Sama dengan daerah Mandala, atau Kabuyutan yang ada di wilayah Cukang Genteng, dekat Ciwidey Kabupaten Bandung.

Kerajaan Kendan selain dikenal melalui gerabah purbakalanya juga disebut-sebut di dalam Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta. Kedua sumber dianggap duplikasi dari Pararatwan Parahyangan. Sayangnya Pararatwan Parahyangan saat ini tidak diketahui rimbanya. 

Namun karena dijadikan sebagai naskah rujukan maka Pararatwan Parahyangan dipastikan keberadaannya lebih tua dari Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta.

KERAJAAN KENDAN (KELANG):

Karajaan Kendan teh ngadeg antara taun 536 tepikeun ka taun 612 Masehi. Mimitina dirajaan ku Prabu Manikmaya (536-568 Masehi). nu kadua Prabu Suraliman Sakti (568-597 Masehi), jeung nu katilu Prabu Kandiawan Dewaraja (597-612 Masehi).

Prabu Manikmaya mah ukur jujuluk, da nami saestuna mah nyaeta Abhi Sanja Wirahwarman. Prabu Manikmaya gaduh geureuha (permasuri) namina Sang Ghiah.

Prabu Suraliman Sakti oge nami ukur jujuluk da nami saestuna mahn yaeta Suraliman Whadiya dharma. Prabu Suraliman Sakti geureuhana namina Haristabhihanji.

Ari Prabu Kandiawan Dewaraja, nami anu saestuna nyaeta Dewa Brahja Patuhja Salahtarahma Adiyadharma. Prabu Kandiawan Dewaraja gaduh geureuha namina Salastri Amiwaja Daniya Ningrum. Tina ieu pasangan, gaduh tilu putra :

- Nu kahiji Wretikandayun atawa Ejah Wangunputra.

- Nu kadua Nyai Anupadewi Ngeisti, 

- Nu katilu pameget Palangtajajar Angundharma.

Karajaan Kelang (atawa Kendan ceuk ucapan para ahli sajarah), bisa disebutkeun teu boga masalah-masalah pelik. Dina ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara, anu nyarangking kalungguhan teh estu ayem tengtrem. Nagara bisa makayakeun rahayat, rahayatna tuhu ka nagara. Eta raja nu tilu teh estu layeut jeung amba rahayat.

Nu asih ka pangasih, nampi kanu peryogi, nampa ka saluhur dada," kitu saur Prabu Kandiawan.

Maksudna : tulung tinulungan henteu rek ningali sasaha, ditarima bae."

Wing estu parataja mahada antara pratata ngayung ka istanija."

maksudna : ka para tamuanu seja dongkap ka ieu karaton, n1angga ditampi ku hate nu someah.

Para Raja Karajaan Kelang (Kendan) sarua boga prinsip hirup sarupa kitu. Hartina, eta tehgeus mangrupa prinsip hirup para raja Karajaan Kelang sacara turun-tumurun. Boa ieu oge mangrupa prinsip hirup para raja Karajaan Tarumanagara. nyaeta karajaan samemeh Kendan.

Hanjakal dina jaman Prabu Kandiawan Dewaraja, komara nagara mimiti nyirorot. Gara-garana lain salahna nu jadi raja, tapi alatan pari polah nu jadi senapati-na anu jauh tina pujieun. Eta senapati anungaranna Walung Tarja, geus momokahaan ngagunakeun pakayanagara bari ngarempak aturan. Meureun mun ceuk basa kiwari mah penyalahgunaan wewenang atawa korupsi tea, lah!

Bisa jadi Sang Senapati teh meupeus–keuyang. bongan aya kahayang anu teu kahontal. Naon eta? Senapati Walung Tarja aya hate kadua leutik ka Nyai Anupadewi Ngeisti. tapi ditolak sapajodogan.

Sang Putri hatena henteu merean da ngarasa asa ka dulur. Sang Prabu sanggeus apal nu jadi putra nolak, atuh sami nolak. Nolakna sopan jeung aya jeujeuhan tapi ari Sang Senapati mah tetep we nyungkelit atina. Balukarna nya jadi euwah-euwah, teu hayang digawe jujur.

Malah loba pakayanagara. dipindah-pindahkeun ka nagara sejen, nyaeta ka Karajaan Biratakarta atawa Karajaan Parakan (Muncang) nu katelah, dina taun 610 M.

Karajaan Kendan atawa Kelang. ukur kuat dua taun, sabab dina taun 612 M ekonomi nagara ambruk jeung nagara oge nyirorot. Ti harita ku Wretikandayun nagara dipindahkeun ka Galuh. malah nelahna mah nya Karajaan Galuh.

(Penelusuran Bu Deudeuh Art : Eyang Resi Jagat Nata di Gunung Batara Guru Limbangan Garut)

Raja-Raja Kendan Di Gunung Sanghyang Anjung 1061 Mdpl.

Raja Pertama Kendan Sang Resiguru Manikmaya. Ia berasal dari Keluarga Calankayana India Selatan. 

Ia telah mengembara ke beberapa Negara, seperti : Gaudi Benggala, Syangka, Yawana, Cina, Mahasin Singapura, Pulau Sumatra, Pulau Bali, Nusa Sapi, dll.

Ia datang dari Jawa bagian Timur. Resiguru Manikmaya Menikah Dengan Tirta Kencana. Putri Maharaja Suryawarman, Penguasa Ke 7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh Karena Itu ia Dihadiahi Daerah Kendan Wilayah Perbukitan Nagreg Kabupaten Bandung.Lengkap Dengan Rakyat Dan Tentaranya..

Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa Mahkota Raja dan Mahkota Permaisuri. Semua Wilayah Tarumanagara diberi tahu dengan surat. Isinya keberadaan Rajaresi Manikmaya Di Kendan, harus diterima dengan baik, sebab Ia menantu sang Maharaja. Terlebih seorang Brahmana ulung nerjasa terhadap agama. Siapa pun yang berani menolak Raja Kendan, akan dihukuman dan kerajaannya akan dihapuskan.

Ringkasan Kerajaan Kendan

Candrawarman (515-535 M) Meletus Gunung Krakatau.

Suryawarman (535-561 M) tidak hanya melanjutkan Kebijakan Politik, yang memberikan kepercayaan lebih kepada daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur daerah Nagreg Bandung dan Limbangan Garut.

Penerus Tahta Kerajaan Kendan:

- Raja Maha Guru Manikmaya. 536-568 M. (Di Kendan Nagreg).

- Raja Putra Suraliman. 568-579 M. (Di Kendan Nagreg).

- Raja Kandiawan. 597-612 M. (Di Medang Jati, Candi Cangkuang Garut).

- Raja Wretikandayun. 612-702 M.

Memindahkan lagi pusat Kerajaan Kendan ke Galuh (Permata).

Kerajaan Kendan berubah nama menjadi Kerajaan Galuh.

Kerajaan Tarumanegara berubah menjadi Kerajaan Sunda.

Muncul Dua Kerajaan Penerus kerajaan Sunda Di Belahan Barat Dan Kerajaan Galuh di Belahan Timur.Dengan Batas Wilayah Kerajaan Sungai Citarum.

Pada Tahun 1482 kedua Kerajaan Ini Dipersatukan Oleh Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi menjadi Kerajaan Sunda Pajajara, berdasarkan Naskah Carita Parahiayangan.

Bukti-Bukti Kerajaan Kendan Yang Ada Sekarang:

1. Kampung Pasir Dayeuh Kolot disebut Kampung Kendan.

2. Ditemukannya Arca Manik, Arca Durga, Pusaka Naga Sastra, Naskah Berbahasa Sansekerta Disimpan Di Museum Nasional Pusat Jakarta.

3. Candi Cangkuang.Puing Bojong Mente Cicalengka.

4. Situs Makam Keramat Sanghyang Anjung, Makam Embah Singa, Makam Eyang Cakra, Makam Kiara Jenggot.

5. Batu Cadas Pangeran Di Nagreg Jawa Barat.

 Pasir Batara guru Merupakan Jajaran Pegunungan Calancang Di Limbangan-Sumedang Selatan, sebuah Lokasi Yang Berada Dikawasan Limbangan. Tempat Mukimnya Keberadaan Sanghyang Batara Guru Jagat Nata.

Di Area Puncak Pasir Bataraguru terdapat Sebuah Petilasan Yang Diyakini Tempat Moksa Dari Sang Batara.

Menurut Sebagian Kabar Beliau Adalah Adik Dari Sang Resiguru Manikmaya Nama Aslinya Prabu Abhi Sanja Wirahwarman (Kerajaan Kendan Nagreg).

Kalau Kabar Itu Benar.Berarti Keberadaan Beliau Hidup Kira-Kira Dikurun Tahun 536 Masehi.

Sezaman Dengan Saudaranya Dan Dibawah Kekuasaan Kerajaan Besar Tarumanagara Dengan Rajanya Pada Waktu Itu Prabu Suryawarman. 

Gunung Batara Guru, adalah sebuah tempat Menggodog Pengetahuan Ilmu :

- Para Calon Resi (Kaum Agamawan).

- Para Raja (Pemimpin) dan,

- Para Calon Kesatria Yang dididik dan dibina.

Kemungkinan Itu Adalah Nama Gelar Kehormatan.Karena Keluasan Ilmunya Dan Yang Jadi Anak Didiknya Kebanyakan Calon Pemimpin (Mengatur/Mengelola Negeri).

Kalau Itu Adalah Tempatnya Hyang Adipati Jagatnata Dijaman Peradaban Sangat Purba (Tua) Sekelas Nama Dewa, Itu Harus Diinvestigasi Lagi Secara Akademik. 

Ini Salah Satu Jejak Ratu Galuh Perjalanan Dari Cipaku Sumedang Ke Selatan. Limbangan Garut. Salawu, sampai Berahir Di Leuweung Sancang.

Pertanyaan?

1. Apakah Situs yang di Gunung Sanghyang Anjung sama dengan yang di Gunung Batu Guru dengan sebutan Eyang Jagat Nata, yaitu Resi Manikmaya?

Dua pendapat yang berbeda, Karena dalam karuhun banyak ditemukan antara Makam dan Makom (Atsar / Petilasan).

2. Petilasan Eyang Jagat Nata Mandalan Kendan atau Mandala Galuh kah?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, #kaP uraikan hasil penelusuran #kaP berdasarkan sejarah, penelusuran, dan kaitan dengan Mandala Galuh, ketika masa prabu Purbasora Raja Mandala Galuh jatuh kekuasaannya.

Kalau melihat Gunung pasir Batara guru merupakan Jajaran Pegunungan Calancang Di Limbangan-Sumedang Selatan, sebuah Lokasi Yang Berada Dikawasan Limbangan.

Tempat Mukimnya Keberadaan Sanghyang Batara Guru Jagat Nata.

Menurut Sebagian Kabar Beliau Adalah Adik Dari Sang Resiguru Manikmaya Nama Aslinya Prabu Abhi Sanja Wirahwarman (Kerajaan Kendan Nagreg). Kalau Kabar Itu Benar.Berarti Keberadaan Beliau Hidup Kira-Kira Dikurun Tahun 536 Masehi?

Bukti apakah yang ada  di atsar (Patilasan) Eyang Jagat Nata tersebut? 

Apakah ada patung ke-hinduisme-an atau patung mudra seperti di Gunung Tampomas di Sumedang sebab jaman tersebut belum masuk sejarah zaman Islam?

Patung Mudra tanpa kepala yang diketemukan di Narimbang sekitar Gunung Tampomas yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Medang Kahyangan dari pecahan zaman Tarumanagara ketika berkuasa.

Posisi Mandala / Kabuyutan Gunung Batara Guru juga bertolak belakang dengan Mandala atau Kabuyutan  Galuh Cipancar hilir Sumedang Selatan, pada masa Ratu Komara / Dewi Komala Sari  / Sunan Baeti  istrinya Aria Bimaraksa (Orang Tua Prabu Aji Puti), Wiradi Kusuma bin Purbasora (Sunan Pameres) dan Wijaya Kusuma bin Purbasora, walaupun di Cipancar ada juga atsar (petilasan) Jagat Jaya Nata, tak jauh dari dari Makam Ratu Komara / Dewi Komala Sari binti Purbasora (Sunan Baeti) dan Wira Dikusuma. 

Denah Mandala/Kabuyutan Cipancar Hilir Desa Cipancar Sumedang yang menjadi Makam umum Cipancar dan pesawahan di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan, cikal bakal ke Mandala/kabututab Citembonng Girang Ganeas dan Mandala Kerajaan Tembong Agung di Darmaraja

Secara silsilah adalah sebagai berikut:

-  Jantaka menikah Sawitri, berputra :

1. Aria Bimaraksa (Sanghyang Resi Agung)

2. Jagat Jaya Nata

3. Sari Legawa

- Arya Bimaraksa beristri Dewi Komalasari putra Purbasora.

- Jagat Jaya Nata beristri Sari Banon Kencana putra Prabu Demunawan, berputra :

1. Sari Ningrum

2. Nawang Wulan / Ratna Inten

Nawang Wulan diperistri oleh Aji Putih bin Arya Bimaraksa dari Dewi Komala Sari bin Purbasora.

- Sari Legawa dinikah oleh Prabu Demunawan (Raja Saunggalah Kuningan), berputra :

1. Sari Banon Kencana

2. Tambak Wesi (Salaka Domas)  

Menurut pengamatan kemungkinan besar Atsar (Petilasan) adalah termasuk mandala atau kabuyutan Galuh pra / pasca pada masa Prabu Purbasora 716-723 M, karena ada nama yang sama dengan Eyang Jagat Jaya Nata  ibunya Ibu Ratu Nawang Wulan istrina Prabu Aji Putih.

Atsar/Makam Ratu Komara (Dewi Komala Sari) putra Prabu Purbasura

istrinya Arya Bimaraksa putra Resi Jantaka (Batara Galunggung)

di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan

Menurut Sejarah Limbangan, bahwa Sejarah Limbangan (Garut) dimulai sejak keberadaan Kerajaan Rumenggong atau Keprabuan Kerta Rahayu, yang rajanya bernama Prabu Rakean Layaran Wangi atau Prabu Jayakusumah.

Bila dikaitkan dengan nama Limbangan, Babad Limbangan (Garut) dimulai sejak Keprabuan Galuh Pakuan (pecahan dari Kerajaan/Keprabuan Limbangan oleh Adipati Limansenjaya atau Prabu Wjayakusumah atas Rumenggong) yang dirubah namanya, menjadi Kabupaten perintah  Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati  di Cirebon pada tahun 1525 M.

Menurut Sajarah Silsilah Asal Usul Limbangan, bahwa Sunan  Rumenggong adalah masih keturunan Prabu Jaya Dewata (Prabu Siliwangi) dari Nyi Putri Inten Dewata (putra Dalem Pasehan Timbanganten) dan masih saudara dari Sunan Ranggalawe (Ratu Timbanganten.

Sunan Rumenggong mempunyai 3 putra,  yaitu :

1. Prabu Mundingwangi atau Sunan Cisorok 

2. Nyi Putri Buniwangi/Nyi Rambut Kasih Lh. + 1470

3. Dalem emas (dari isteri keduanya).

Nyi Putri Buniwangi atau Nyi Putri Rambut Kasih menikah dengan Prabu Layakusumah putra Sri Baduga Maharaja dari Ratu Anten. Prabu Layakusumah adalah raja  di Keprabuan Pakuan Raharja (Cicurug Sukabumi) sebagai vazal Kerajaan Pakuan Pajajaran (Bogor).

Pada sebagian rundayan silsilah Limbangan, Nyi Rambut Kasih  sering dirancukan dengan Nyi Ambet Kasih putra Ki Gedeng Sindangkasih ( Cirebon). Nyi Ambet Kasih adalah isteri dan saudara sepupu dari Prabu Jaya Dewata, yang saat itu masih bernama Raden Pamanahrasa  putra Prabu Dewa Niskala. Prabu Dewa Niskala saat itu masih sebagai putra mahkota Kerajaan Sunda Galuh, yang rajanya adalah Maharaja Linggawastu Kancana (1371 – 1475 M)  yang berkedudukan di Kawali ( Ciamis).

Di daerah Sindangkasih Majalengka, adapula seorang putri yang menjadi Ratu Sindangkasih benama Nyi Putri Rambut Kasih (petilasannya “Pasir Lenggik “di daerah Sindangkasih Majalengka). Menurut sesepuh di daerah Sindangkasih (Majalengka), dia itu  adalah putra Prabu Jaya Dewata, yang ketika  agama Islam mulai memasuki daerah Majalengka , dia menolak untuk menganut agama  Islam. Ratu Sindangkasih bagi masyarakat  di Majalengka, terkenal dalam cerita  legenda  “Majalengka“.

Menurut riwayat lain, disebutkan bahwa bahwa Sunan Rumenggong dari isteri pertama tidak mempunyai putra, tetapi memelihara Putri Ambetkasih/Nyi Putri Buniwangi putra Sunan Patinggi Buniwangi.

Dari isteri keduanya Sunan Rumenggong dikaruniai 6 orang putra, yaitu :

1. Dalem Mangunharja (Sunan Galunggung)

1.1. Dalem Singaharja

1.1.1. Nagaparana

2. Dalem Manggunrembung/Prabu Mundingwangi (Sunan Cisorok)

3. Dalem Mangunreksa (Sunan Manglayang)

4. Dalem Manguntaruna (Purbalingga Jawa Tengah)

5. Dalem Emas (Sunan Bunikasih)

6. Dalem Mangunkusumah (Lemah putih Depok)

Menurut riwayat, bahwa pada + tahun 1600 M  Nagaparana pernah mengadakan pemberontakan, yang menyebabkan tewasnya Tumenggung Wangsanagara (Sunan Kareseda) putra Prabu Wijayakusumah (Sunan Cipancar) di suatu tempat yang sekarang disebut  Ragahiyang di Gunung Sadakeling. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Dalem Santowaan cucu Prabu Mundingwangi (Dalem Cibolerang Wanaraja).

Setelah wafat Sunan Rumenggong dimakamkan di Kampung Poronggol (sekarang termasuk Desa Ciwangi Kecamatan Limbangan). Sedangkan saudaranya, Sunan Patinggi makamnya ada di Kampung Nangkujajar Limbangan.

B. PRABU MUNDINGWANGI

Nama beliau pun  sering dirancukan dengan Prabu Mundingwangi atau Prabu Munding Surya Ageung (Raja Maja) putra Prabu Jaya Dewata, saudaranya Ratu Sindangkasih, sebagaimana telah disebutkan di atas. Kembali kepada Prabu Mundingwangi putra Sunan Rumenggong, bahwa beliau menggantikan ayahnya menjadi Prabu di Keprabuan Rumenggong atau Kerta Rahayu.  Menurut Rd. Soemarna, ada kemungkinan  beliau  memindahkan pusat pemerintahannya dari Kertarahayu ke Dayeuhmanggung (Desa Selaawi) dan menikahi putri Sunan Dayeuhmanggung saudaranya Sunan Gordah dan mempunyai putra :

Prabu Salalangu Layakusumah

Setelah wafat Prabu Mundingwangi dimakamkan di daerah Cisorok – Selaawi dan terkenal dengan sebutan  Sunan Cisorok. Kerajaan Rumenggong dilanjutkan oleh Prabu Salalangu Layakusumah.

C. PRABU SALALANGU LAYAKUSUMAH Lahir + 1485 M

Sepeninggal Prabu Mundingwangi (Sunan Cisorok), Keprabuan Kerta Rahayu dilanjutkan oleh putranya, yaitu Prabu Salalangu Layakusumah. Menurut Silsilah menak-menak Limbangan, beliau adalah kakek dari garis ibu Prabu Wijayakusumah atau Sunan Cipancar. Setelah Prabu Salalangu Layakusumah wafat diganti oleh putranya Dalem Santowaan atau disebut juga  Santowaan Nusakerta.

D. DALEM  SANTOWAAN  Lahir + 1505 M

Dalem Santowaan menggantikan Prabu Salalangu  Layakusumah, tetapi tidak di Keprabuan Kerta Rahayu, karena wilayah Keprabuan Kerta Rahayu telah dibagi tiga wilayah, yaitu Kaprabuan Galeuh Pakuan, Kaprabuan Sudalarang dan Kadaleman Cibolerang Wanaraja.

Kaprabuan Galeuh Pakuan, dipimpin oleh Dalem Adipati Limansenjaya atau Prabu Wijayakusumah (Sunan Cipancar), yang menggantikan ayahnya Prabu Hande Limansenjaya. Wilayahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Limbangan, Cibiuk, Leuwigoong, Selaawi, Malangbong, Karangtengah, Cibatu , Wanaraja dan Karangpawitan.

Kaprabuan Sudalarang, dipimpin oleh Dalem Singadipati I, yang menggantikan ayahnya Prabu Wastu Dewa. Wilayahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Sukawening dan Karangtengah Kab. Garut.

Dalem Santowaan memimpin Kadaleman Cibolerang Wanaraja. Pusat Kadalemannya, adalah di suatu tempat antara Cibolerang dan Bojongsari (arah sebelah Barat Daya Kp.Cinunuk Hilir Wanaraja). Wilayah Kadaleman Cibolerang meliputi yang sekarang termasuk  wilayah Cipicung - Banyuresmi, Cinunuk - Wanaraja, Cimurah, Calingcing dan Suci Karangpawitan.

Ada kemungkinan makam yang berada disana, adalah makam Dalem Santowaan dan isterinya.  Makam tersebut sampai sekarang tidak  ada yang memelihara atau mengurusnya.

Menurut Sajarah Limbangan, Dalem  Santowaan mempunyai 5 orang putra, yaitu :

1. Dalem Nayawangsa

2. Dalem Wangsareja

3. Kyai Gede Papandak (Distrik Wanaraja)

4. Kyai Gede Dadap Cangkring (Distrik Wanaraja)

5. Kyai Nawu

D.1. DALEM NAYAWANGSA

Dalem Nayawangsa adalah Dalem di daerah Cipacing Wanakerta, yang sekarang termasuk wilayah Kec. Cibatu Kab. Garut.

Dalem Nayawangsa diangkat   sebagai Bupati Limbangan yang pertama  (1660 – 1678 M) oleh Pangeran Rangga Gempol III Bupati Sumedang (1656 – 1705). Setelah wafat pada pada tahun 1678 M, beliau digantikan oleh Dalem Mertasinga (1678 – 1726 ) putra Dalem Adipati Rangga Megatsari.

Kabupaten Limbangan, oleh karena saat itu  penduduknya hanya 200 keluarga, maka berdasarkan Keputusan VOC tanggal 15 Nopember 1684 statusnya menjadi Distrik ( Kawadanaan ) Kabupaten Sumedang. Pada tahun 1705 statusnya dikembalikan menjadi Kabupaten di bawah Kesultanan Cirebon.

Dalem Nayawangsa menikah dengan Ny Rd. Ayu  Kuningan putra Dalem Sanggadipati II (Ragadiyem) cucu Prabu Wastu Dewa (Keprabuan Sudalarang).

Dalem Nayawangsa mempunyai dua orang putra, yaitu :

1. DALEM KUDAWARSA

Dalem Kudawarsa menikah dengan saudara sepupunya Nyi Tanurang Manik  menurunkan 2 orang putra,  yaitu :

1). Dalem Wangsadita I (Rangga Limbangan)

Dalem Wangsadita I menggantikan Dalem Mertasinga, sebagai Bupati Limbangan 3 (1726 -1740 M). Beliaulah yang menurunkan para Bupati Limbangan, Sumedang dan  seuweu siwinya.  Seuweu siwinya akan dijelaskan di belakang.

2). Rd. Candrakusumah.

Rd. Candrakusumah riwayatnya belum dketemukan, tetapi dalam Sajarah Menak - menak Limbangan, beliau menurunkan  putra, cucu dan seterusnya sampai Rd.Padmareja (Camat Leuwidadap  Kab. Bandung). Seuweu siwi Rd.Padmareja  tidak diketahui.

2. DALEM WANGSAREJA

Dari cucunya Rd. Abubakar putra Rd.Muh.Rajak, menurunkan cicit/buyut, yaitu :

1). Kyai Rd. Ali Mujaham

2). Kyai Rd.Ali Mujahim

3). Kyai Rd. Muh. Arif

4). Kyai Rd.Arsi

D.2. DALEM WANGSARAJA  Lahir + 1525 M

Dalem Wangsaraja adalah putra Dalem Santowaan, yang menurut Sajarah Limbangan menjadi Dalem Banjaran (Wanaraja ). Beliau adalah menantu dari Adipati Suriakusumah Rangga Megatsari ( cicit dari Sunan Cipancar), karena menikah dengan putranya yang bernama Nyi Rd. Tanurang Rucitawangi.

Ketika Rangga Megatsari wafat (1650 M), yang menggantikannya sebagai Bupati Limbangan adalah putranya Dalem Wangsakusumah I. Karena putra Dalem Wangsakusumah, yaitu Rd. Bedangga Kusumah masih kecil,maka  atas perintah Sultan Mataram   Dalem Wangsareja menggantikannya sebagai Bupati Limbangan.

Dari perkawinannya dengan Nyi Rd. Tanurang Rucitawangi, Dalem Wangsaraja dikaruniai dua orang putra, yaitu :

1. Nyi Rd. Tanurang Manik

Nyi Tanurangmanik menjadi isteri dari Dalem Kudawarsa putra Dalem Nayawangsa, yang selanjutnya melahirkan 2  orang putra sebagaimana telah disebutkan di atas.

2. Rd. Rajasuta.

Rd. Rajasuta menjadi menantu Sunan Tangkil yang menjadi  Demang Timbanganten.

Dari Nyi Rd. Ajeng Karaton putra Sunan Tangkil, Rd. Rajasuta mempunyai  2 orang putra, yaitu :

1). Dalem Rajadiwangsa.

2). Rd. Taruna  (Cikukuk).

Putra Dalem Rajadiwangsa, yaitu Rd. Arsadinata I ( Patih Limbangan) menikah dengan Nyi Rd. Purba Sepuh ( Leuwibolang ) putra Dalem Wangsadita I ( Bupati Limbangan 3, 1726 - 1740 M ), menurunkan 4 orang putra, yaitu  :

(1) . Rd. Rajadinata I  (Wedana Cileuleuy)

(2). Rd. Natadireja

(3). Rd. Arsadinata II

(4). Nyi Rd. Natijah

1.Rd. Rajadinata I (Wedana Cileuleuy)

Salah seorang putra Rd. Rajadinata I, yaitu :

•  Nyi Rd. Umu Kulsum

Belau adalah istri dari  Kyai Rd. Moh. Soleh (Penghulu Malangbong) putra Rd.Mas Nur Hasan, cucu Rd. Surayuda (Wedana Malangbong).

2. Rd.Natadireja.

Rd. Natadireja menikah dengan Ny Rd. Natamantri putra Nyi Rd Kambang cucu Dalem Wangsadita II ( Bupati Limbangan 4).

Rd. Natadreja dikaruniai 7 orang putra, diantaranya yaitu  :

1). Nyi Rd. Siti Maliki

Beliau adalah suami Rd. Sinureja putra Rd. Sutabangsa yang nantinya menurunkan tokoh-tokoh terkenal Cibiuk dan Limbangan :

(1). Kyai Rd. Jafar Sidik

(2). Kyai Rd.Fakih Ibrahim

Riwayat dan rundayannya akan dijelaskan pada Bagian 6.

2). Rd. Arsadireja (Rd. Aip)

Rd. Arsadireja menikah dengan putra Rd. Wangsayuda  (cicit Dalem Jiwanagara I  ( Cinunuk Wanaraja ) putra Tg. Wijayakusumah ( Dalem Sukadanuh ) dan dikarunia seorang putra, yaitu :

Nyi Rd. Mariyah

Nyi Rd. Mariyah selanjutnya menikah dengan Patih Limbangan yang bernama Rd. Rangga Suriadikusumah putra Rd. Suriadiningrat ( keturunan Dalem Cikundul Cianjur dan Panjalu ).  Menurut silsilah,  Rd. Rangga Suriadikusumah  putra Rd. Suriadiningrat adalah saudara sepupu Dalem Adiwijaya I  ( Bupati Limbangan Garut 1813 – 1833 M )  putra Pangeran Kornel  (Bupati Sumedang. 1791 – 1828 M ).

Ny. Rd. St. Mariyah putra Rd. Arsadireja dari Rd. Rg. Suriadikusumah dikarunia seorang putra, yaitu : Rd. H. Muhammad Musa.

Rd. H. Muhammad Musa adalah Penghulu Limbangan atau terkenal dengan sebutan Penghulu Bintang Garut. Riwayat dan rundayannya akan dijelaskan di belakang.

Dalem Wangsayuda adalah Sekretaris Keraton Mataram (asal Cilegong Papandak).

Dalem Wangsayuda dikaruniai 5  orang putra, yaitu :

1. Rd. Patrawangsa

2. Rd. Partadiriya

3. Rd. Paranajibja al Ilyas

4. Rd.Natawiria

5. Rd. Wra Sasatero

D.4. KYAI PANDE GEDE DADAP CANGKRING.

Mengenai riwayat dan data Silsilah Rundayannya tidak diketahui.

D.5. KYAI NAWU

Adapun putra bungsu Dalem Santowaan, yaitu Kyai Rd. Nawawi. Menurut riwayat, karena beliau ahli dalam bidang llmu Nahwu  ( cabang ilmu tata bahasa Arab ), maka beliau terkenal dengan sebutan Kyai Rd.Nawu.

Kyai Rd. Nawu  tinggal dan menetap di daerah Cibeureum Wanaraja, yang sekarang termasuk wilayah Kec. Pangatikan Kab. Garut.

Kyai Rd.Nawawi (Kyai Rd.Nawu) mempunyai putra yang bernama  :

Kyai Lembang ( Syekh Abdul Jabar )

Beliau adalah Kyai di daerah Cikukuk Leles (sekarang termasuk wilayah Kec. Leuwigoong).

Makam Kyai Lembang (Syekh Abdul Jabar)  satu kompleks  dengan makam cucunya, yaitu  Kyai Rd. Jafar Sidik, berada di sebuah bukit Gunung Haruman di Desa Cipareuan Kec. Cibiuk Kab. Garut.

Kyai Lembang atau Syekh Abdul Jabar mempunyai beberapa orang putra, diantaranya :

I. Kyai Rd. Ketib

Beliau adalah seorang Kyai di daerah Ciceuri  (sekarang temasuk Kec. Kersamanah Kab. Garut).

Makam Kyai Rd. Ketib putra Kyai Lembang berada di sebelah Barat pemakaman Astana Gede di Kampung Pasir Astana Desa Pasirwaru Kec. Limbangan.

Karena Kyai Rd. Ketib memegang jabatan Khotib pertama di Limbangan, maka selanjutnya beliau pindah dari daerah Ciceuri Malangbong (sekarang termasuk wilayah Kec.Kersamanah Kab. Garut ) ke Limbangan dan seterusnya tinggal dan menetap di Limbangan.

Kyai Rd.Ketib  dkaruniai 7 orang putra,diantaranya :

1. Nyimas Ayu Subah

Nyimas Ayu Syu’bah menikah dengan Kyai Rd.Mas’ud putra Rd. Arsawiguna (Patih Limbangan) dan melahirkan 5 orang putra, diantaranya yaitu  :

1 ). Kyai Rd. Jafar Sidik

2 ).Kyai Rd. Fakih Ibrahim.

Kedua putra Kyai Rd. Mas’ud dengan Nyimas Ayu Syu’bah ini akan djelaskan pada  Bagian 4.

2.  Kyai Musta’mil

Berputra  satu, yaitu :

• Nyi Rd. Ajeng Kawibun

Menikah dengan saudara sepupunya, yaitu  Kyai Rd. Jafar Shidik putra Kyai Rd.Mas’ud.

3. Kyai Mas Panengah

Berputra beberapa orang,diantaranya :

• Ny. Rd.Pangulu Cicadas

Menikah dengan saudara sepupunya, yaitu Kyai Rd.Fakih Ibrahim putra Kyai Rd.Mas’ud.

II. Kyai Rd. Sulaeman (Banyumas)

 Dua diantara beberapa putranya, yaitu :

- Kyai Mas Winata  

- Kya Abdullah

F. PRABU WASTU DEWA

Prabu Layakusumah dari perkawinannya dengan Nyi Putri Buniwangi mempunyai putra kembar, yang sulung namanya Prabu Wastu Dewa (sebagai Prabu di Keprabuan Dayeuh Luhur wilayah Cibiuk sekarang) dan Prabu Hande Limansenjaya Kusumah (sebagai Prabu di Keprabuan Galeuh Pakuan wilayah Limbangan Sekarang ). Selanjutnya Prabu Wastu Dewa menjadi Prabu di Keprabuan Sudalarang  (daerahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Sukawening dan Karangtengah).

Prabu Wastu Dewa mempunyai putra Rd. Singadipati I  di Cinta, dan mempunyai 6 orang putra, 

yaitu :

1). Dalem Mangkubumi (Wanakerta)

2). Dalem Wangsapati (Cinta )

3). Dalem Kertawangsa

4). Dalem Jaksa (Ragadiyem) Cucunya adalah Ny. Rd.Minur yang menikah dengan Dalem Mertasinga putra Adipati Ranggamegatsari ( Bupati Limbangan 2 1678 – 1726 M ).

5). Dalem Lurah (Ragadiyem)

6). Dalem Singadipati II (Cinta)

Sepeninggal ayahnya, Keprabuan Sudalarang dilanjutkan oleh Dalem Singadipati II (masuk  Islam tahun 1525 M). Putranya  adalah Ny.Rd.Ayu Kuningan yang menikah dengan  Dalem Nayawangsa putra Dalem Santowaan ( Bupati Limbangan 1 1650 – 1678 M ).

Setelah Dalem Singadipati II (Prabu Sangga Adipati II) putra Rd. Singadipati I, Keprabuan Sudalarang dilanjutkan oleh Dalem Cakrajaya.

Sampai sekarang penyusun belum menemukan Buku Standar Silsilah Rundayan dari Prabu Wastu Dewa ( Sudalarang ).

Menurut Rd. Sobarnas, salah seorang cucu Dalem Singadipati II yang bernama Nyimas Ayu menikah dengan Pangeran Sacakusumah putra Mas Jolang atau Pangeran Seda ing Krapyak ( Sultan Mataram 1601 – 1613 M ). (Rd. Sobarnas : 26 ).

Ada kemungkinan  Rd. Wirantadijaya (Lurah Desa Cinta Kec. Nangkapait Kab. Garut), ayah Rd. Muh. Sanusi Harjadinata, Gubernur Jawa Barat tahun 1952 – 1857 adalah keturunan dari Ragadiyem.

H. PRABU HANDE LIMANSENJAYA

Sajarah Limbangan meriwayatkan, bahwa beliau adalah saudara kembar dari Prabu Wastu Dewa. Beliau adalah sebagai penguasa di Keprabuan Galeuh Pakuan. Keraton Galeuh Pakuan berada di daerah Pasirhuut berdekatan dengan  Sungai Cipancar yang bemuara ke Sungai Cimanuk.

Sesepuh Pondok Pesantren Wates Bapak KH Rd. Aten Muhyiddin telah menceritakan kepada penyusun, bahwa ayah beliau (KH Rd. U. Muhyiddn) dan leluhurnya pernah mengunjungi daerah bekas Kerajaan Galuh Pakuan tersebut.

Kang Aan Merdeka Permana dalam Majalah Ujung Galuh menjelaskan, bahwa Pasirhuut  adalah “lembur nu pinuh ku lalangse“  (Kampung yang penuh dengan kabut misteri), sebab ada dugaan bahwa di bawah tanah daerah Pasirhuut  tersimpan kekayaan  peninggalan keraton Galuh Pakuan.

Menurut berita catatan tradisional, bahwa Mahkota Binokasih Sanghiyang Pake (Mahkota Raja yang dibuat Bunisora dan dipakai oleh Raja-raja Galuh/Sunda dan Pajajaran, mulai dari Prabu Wastukancana (1371-1475) sampai Prabu Ragamulya/Suryakancana/Prabu Siliwangi terakhir  (1567- 1579 M), yang seharusnya dibawa ke Prabu Geusan Ulun di Sumedang larang atas perintah Prabu Siliwang, oleh Jayaperkosa disembunyikan di salah satu gua tidak  jauh dari keraton Galuh Pakuan di daerah Pasirhuut Limbangan.

Tetapi versi lain menyebutkan, bahwa berdasarkan ucapan Prabu Wijayakusumah (Sunan Cipancar Limbangan), mahkuta Binokasih disembunyikannya agak jauh dari Pasirhuut, yaitu di sebelah Barat makam Prabu Wijayakusumah  atau Sunan Cipancar di  Limbangan  (Pasir Astana Desa Pasirwaru Limbangan)

Wallahualam bisahab.

Bersambung..


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Tidak ada komentar

Posting Komentar