Ybia Indonesia - Tengku Sulung mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh besar dalam buku sejarah nasional. Namun di tanah Reteh, Sungai Batang, hingga pesisir Indragiri Hilir, sosoknya dikenang sebagai panglima Melayu yang teguh mempertahankan martabat negeri dari cengkeraman kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19.
Tengku Sulung dikenal sebagai pejuang yang tak pernah mau berkompromi dengan kekuasaan kolonial. Perlawanan yang dipimpinnya bukan sekadar konflik politik, tetapi juga lahir dari keyakinan agama dan harga diri sebagai anak negeri.
Latar Belakang dan Pendidikan Agama
Tengku Sulung diperkirakan lahir di Lingga, Kepulauan Riau. Sejak kecil ia dididik dalam lingkungan Islam yang kuat dan disiplin. Pemahaman agamanya membentuk karakter yang tegas serta prinsip yang kokoh dalam menolak segala bentuk kerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda.
Pengalaman di Kalimantan dan Luka yang Membekas
Pada masa remaja, Tengku Sulung merantau ke Kalimantan. Di sana ia menekuni kehidupan sebagai pelaut dan mendapatkan pelatihan dalam mengarungi lautan. Kepiawaiannya di laut menjadikannya sosok yang disegani.
Dalam salah satu pertempuran di kawasan Kruang, Kalimantan, ia pernah tertembak dan mengalami luka di bagian wajah. Bekas luka tersebut menetap hingga masa tuanya, menjadi saksi bisu kerasnya kehidupan yang ia jalani.
Diangkat sebagai Panglima Besar Reteh
Perjalanan hidupnya berubah ketika ia dipercaya menjadi Panglima Besar Reteh pada masa kekuasaan Sultan Muhammad dari Lingga. Namun situasi politik saat itu tidak stabil. Belanda kemudian mengangkat Sultan Sulaiman untuk memimpin kawasan yang sama, menggantikan Sultan Muhammad.
Kebijakan ini memicu ketegangan. Tengku Sulung menolak tunduk kepada penguasa yang dianggap sebagai perpanjangan tangan kolonial. Sikapnya tegas: tidak ada kompromi dengan kekuasaan yang didukung Belanda.
Membangun Benteng Pertahanan di Sungai Batang
Sebagai langkah strategis, Tengku Sulung membangun pusat pertahanan di Kotabaru Hulu, Pulau Kijang, sekitar 16 mil dari Pulau Kijang. Di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Benteng, Sungai Batang, ia mendirikan benteng seluas kurang lebih dua hektare.
Sekitar tiga kilometer dari benteng utama, terdapat rumah kediamannya yang juga berbentuk benteng kecil dan ditumbuhi pohon dedap. Dari sinilah ia dan pasukannya mengatur strategi menghadapi serangan Belanda yang datang dari pusat keresidenan di Tanjung Pinang.
Mengganggu Pelayaran Belanda
Tengku Sulung dan pasukannya dikenal kerap mengganggu jalur pelayaran Belanda di sekitar perairan Kepulauan Riau. Aksi-aksi ini membuat pemerintah kolonial murka. Belanda kemudian mempersiapkan operasi militer besar-besaran untuk menghancurkan kekuatan Tengku Sulung.
Pada 13 Oktober 1858, pasukan Belanda mengepung pertahanan Tengku Sulung dari berbagai penjuru. Meski terdesak, ia tidak sendirian. Dukungan mengalir dari masyarakat Melayu Reteh, Enok, dan Mandah.
Ultimatum dan Serangan Terakhir
semakin sulit ketika Belanda berhasil menangkap Haji Muhammad Thaha, juru tulis Tengku Sulung, di Kotabaru. Penangkapan ini melemahkan koordinasi internal pasukan. Residen Belanda kemudian mengultimatum Tengku Sulung untuk menyerah kepada Komandan Ekspedisi.
Namun ia menolak tunduk. Pada 7 November 1858, Belanda melancarkan serangan besar. Kekuatan yang tidak seimbang membuat banyak rakyat Reteh gugur. Dalam pertempuran tersebut, Tengku Sulung tertembak di bagian leher saat sedang memeriksa tembok benteng pertahanan. Perlawanan pun terhenti.
Warisan Perjuangan
Meski namanya belum banyak tercatat dalam narasi besar sejarah nasional, Tengku Sulung adalah simbol keberanian dan harga diri Melayu. Ia berdiri di garis depan mempertahankan wilayahnya dari intervensi kolonial, dengan keyakinan agama dan keberanian sebagai landasan perjuangan.
Benteng yang pernah ia dirikan menjadi penanda sejarah bahwa di tepian Sungai Batang pernah berdiri seorang panglima yang menolak tunduk. Kisah Tengku Sulung mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga di pesisir dan kampung-kampung yang jauh dari pusat kekuasaan.
Sumber Referensi:
- Wikipedia: Tengku Sulung
- Arsip sejarah lokal Indragiri Hilir
- Catatan sejarah Kesultanan Lingga dan Reteh (diolah dari berbagai sumber sejarah Melayu)
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar