KH Ahmad Sanusi: Ulama Pejuang dari Sukabumi – Ilmu sebagai Senjata Perlawanan

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Di tengah dinginnya penjajahan dan panasnya penindasan, lahirlah seorang ulama dari Sukabumi yang tidak hanya mengajar di mimbar, tetapi menggerakkan umat dengan pena dan pemikiran. Beliau adalah KH Ahmad Sanusi.


Lahir untuk Ilmu, Hidup untuk Umat

Lahir pada 3 September 1888 di Sukabumi, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat. Perjalanan intelektualnya tidak berhenti di tanah Sunda. Ia berangkat ke Mekkah, menimba ilmu dari para ulama besar dunia Islam. Beliau tidak pulang sebagai orang biasa. Beliau pulang sebagai ulama pemikir.


Pena yang Menggetarkan Penjajah

KH Ahmad Sanusi bukan hanya ahli ibadah. Beliau adalah ulama produktif yang menulis puluhan kitab dalam bahasa Arab dan Sunda Pegon. Tulisan beliau bukan sekadar tinta di atas kertas. Itu adalah perlawanan intelektual. Beberapa karya yang cukup dikenal di kalangan pesantren:


- Tafsir Raudhatul ‘Irfan fi Ma’rifatil Qur’an ➝ Ini termasuk karya paling masyhur. Tafsir Al-Qur’an yang ditulis dengan gaya yang mudah dipahami santri.

- Tanbihul Ghafilin ➝ Kitab nasihat dan peringatan untuk umat agar tidak lalai dalam agama.

- Hidayatush Shibyan ➝ Kitab dasar untuk pembelajaran pemula.

- Al-Furu’ al-Fiqhiyyah (beberapa risalah fiqih) ➝ Membahas masalah ibadah dan muamalah.

- Berbagai risalah tauhid, fiqih, tasawuf, dan bantahan terhadap pemikiran menyimpang pada zamannya.


Dibuang, Tapi Tidak Bisa Dibungkam

Karena ketajaman pikirannya, Belanda menganggap beliau berbahaya. Beliau ditangkap dan dibuang ke Batavia dan Bengkulu. Namun penjajah lupa satu hal: Ulama sejati tidak bisa dipenjara oleh tembok. Ilmu tidak bisa dibungkam oleh kekuasaan. Di pengasingan pun, beliau tetap menulis. Tetap mengajar. Tetap menyalakan cahaya kesadaran.


Warisan Pemikiran

Beliau mendirikan Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII) — gerakan pendidikan dan dakwah yang membangun fondasi intelektual umat Islam Jawa Barat. Beliau membuktikan bahwa:


Ulama harus cerdas.

Ulama harus berani.

Ulama harus membela umat.

Ilmu harus melahirkan perubahan.


Pengakuan Bangsa

Wafat pada 17 November 1950, perjuangannya tidak berhenti. Negara menetapkannya sebagai:


Pahlawan Nasional Indonesia

Bukan karena pidato kosong. Bukan karena popularitas. Tetapi karena ilmu dan keberanian.


Renungan untuk Umat Hari Ini

Kita sering bangga menyebut diri sebagai umat ulama besar. Tapi pertanyaannya: Apakah kita mewarisi keberanian berpikirnya? Apakah kita meneruskan tradisi menulis dan membaca? Ataukah kita hanya sibuk berdebat tanpa ilmu? KH Ahmad Sanusi mengajarkan kita satu hal penting: Islam akan kuat jika umatnya kuat dalam ilmu. Bangsa akan merdeka jika pemikirannya merdeka.

Beliau bukan hanya milik Sukabumi. Beliau adalah milik umat. Semoga kita tidak hanya mengenang, tetapi meneladani nya 

Tidak ada komentar

Posting Komentar